Categories: Ekonomi Syariah

Brand Lokal Islami Bisa Gaspol di Tengah Sentimen Global

JAKARTA- Inventure dan Rumah Zakat merilis hasil riset tahunan ‘Indonesia Muslim Market Outlook 2025’ (IMMO 2025) dalam sebuah forum strategis di Ganara FX Sudirman, Jakarta, Kamis (6/3/2025).

Dikutip dari Kuatbaca, Forum ini mengumpulkan pelaku industri syariah, akademisi, dan pelaku bisnis untuk membahas perkembangan ekosistem pasar Muslim di Indonesia. IMMO 2025 juga menghadirkan panel diskusi dan presentasi riset dari para pakar guna memberikan wawasan mendalam tentang masa depan ekonomi syariah.

Pergeseran Perilaku Konsumen Muslim

Yuswohady, Managing Partner Inventure, menilai konsumen Muslim kini tidak hanya mempertimbangkan aspek halal secara hukum Islam, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan, dampak sosial, dan kesejahteraan umat.

“Konsumen Muslim melihat hukum Islam bukanlah semata aturan kaku, tapi memiliki tujuan utama (maqashid) untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan kemaslahatan umat,” jelas Yuswohady.

Pergeseran ini didorong oleh digitalisasi yang semakin masif sejak pandemi, menandai peralihan dari era Muslim 4.0 ke Muslim 5.0. Konsep ini terinspirasi dari Society 5.0 yang dikembangkan di Jepang, di mana teknologi digunakan untuk menciptakan masyarakat yang lebih humanis dan etis, sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Dalam konteks ini, konsumen muslim tidak hanya dilihat sebagai pasar, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat global yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial,” tambah Yuswohady.

Meningkatnya Kesadaran Pada Isu-isu Global

CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha mengungkapkan, konsumen Muslim kini tidak hanya mempertimbangkan manfaat teknis suatu produk, tetapi juga melihat konsumsi sebagai bagian dari kepedulian terhadap isu-isu global.

“Konsumen Muslim semakin sadar dengan produk halal, dan semakin peduli dengan isu-isu global seperti Palestina, yang tercermin dalam fenomena pemboikotan produk-produk yang dianggap pro-Israel,” ungkap Irvan.

Riset terbaru dari IMMO 2025 menunjukkan bahwa 89 persen responden lebih memilih mengganti produk global yang diboikot dengan brand lokal Islami.

Peluang Branding dari Sentimen Terhadap Isu Global

Yuswohady menilai, sentimen terhadap isu global saat ini menciptakan peluang besar bagi brand halal lokal untuk berkembang dan memperkuat posisi mereka di pasar.

“Brand lokal dapat menegaskan identitasnya sebagai produk asli Indonesia yang mendukung nilai-nilai kebaikan, termasuk kepedulian terhadap isu sosial. Bangun narasi, posisikan diri sebagai pilihan utama konsumen Muslim dengan menekankan bahwa produk tersebut tidak hanya halal, tetapi juga mendukung ekonomi umat,” jelas Yuswohady.

Dengan meningkatnya kesadaran konsumen Muslim terhadap nilai-nilai keberlanjutan dan isu global, brand lokal memiliki kesempatan untuk membangun loyalitas konsumen dengan lebih kuat. (isl)