MEDAN – Tewasnya seorang sopir truk pengangkut besi beton di proyek pembangunan gedung di Jalan Cut Mutia, Kota Medan, Sumatera Utara, hingga kini menjadi tanda tanya besar. Sejumlah kejanggalan terlihat pada penanganan kecelakaan kerja tersebut.
Mendengar kasus kematian ini, Ketua Komisi III Dewan K3 Sumatera Utara, T. M. Yusuf angkat bicara. Ia mendesak Polda Sumatera Utara untuk turun tangan menyegel proyek pembangunan di Jalan Cut Meutia, Medan, tersebut.
Menurutnya, pihak pengembang telah lalai dan mengabaikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Selain itu, lanjutnya, setiap kegiatan proyek K3 juga diwajibkan ada pejabat K3 yang bertanggungjawab menginstruksikan dan memberikan pengarahan sebelum dimulainya pekerjaan.
“Dimulai dengan JSA (Job Safty Analisis), pejabat K3 akan menjelaskan secara detail perihal SOP, mulai dari masuk area kerja hingga proses pengerjaan,” ungkap Yusuf.
Lanjutnya, juga adany TBM (Tool Box Meeting), yang mana akan dirincikan hal-hal apa saja yang akan menjadi kendala dan dialami pekerja.
“Nantinya akan dibahas dalam TBM.
Tentunya owner projek wajib memahami ini, dan memprioritaskan anggaran K3 dalam setiap kegiatan di tempat kerja. Nah, apakah hal ini sudah dilakukan oleh owner projek bangunan di Jalan Cut Mutia?” sergah Yusuf.
Jika belum, lanjutnya, tewasnya pekerja di proyek Jalan Cut Meutia Medan, diduga kuat telah terjadi kelalaian, dan polisi harus turun tangan untuk mengusut tuntas kasus kecelakaan kerja tersebut.
“Kelalaian ini menjadi
ranah aparat penegak hukum untuk melakukan tindakan hukum. Tidak hanya kepada owner proyek, tetapi juga kepada instansi berwenang yang telah melakukan pembiaran,” tegas Yusuf.(bj)