Kolom

Belajar Menghidupkan Fungsi daripada Menikmati Posisi

Menyeruak Sisi Kehidupan Sang Tokoh Umat, H. Musa Rajekshah

Oleh: Ust. Abdul Latif Khan
Pembina Rumah Dakwah as-Sakinah

Di zaman ketika jabatan dielu-elukan, posisi diperebutkan, dan kekuasaan sering dijadikan tujuan, ada satu pertanyaan sunyi yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri:

“Masihkah fungsi hidup di balik posisi yang aku pegang?”

Kita menyaksikan banyak kursi terisi, tetapi amanah terasa kosong. Banyak nama disebut, namun kehadiran justru absen. Padahal, dalam pandangan ruhani Islam, posisi hanyalah titipan sementara, sedangkan fungsi adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban hingga akhirat.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia lahir dari kegelisahan, dari upaya menata hati, dan dari keinginan untuk belajar—belajar menghidupkan fungsi, sebelum Allah mencabut posisi. Dalam perenungan itu, ada pelajaran yang dapat dipetik dari sosok H. Musa Rajekshah— bukan untuk diagungkan, tetapi untuk dijadikan cermin batin.

Posisi Bisa Mengangkat, Fungsi yang Menyelamatkan

Tasawuf mengajarkan satu hikmah mendasar:
yang berbahaya bukanlah memiliki posisi, tetapi kehilangan fungsi di dalamnya.

Imam Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari pernah menegaskan bahwa amal paling bernilai adalah amal yang engkau lupakan, sementara Allah tidak melupakannya. Fungsi sejati sering bekerja dalam kesunyian—tidak berisik, tidak gemerlap, tetapi menyentuh dan menyelamatkan.

Fungsi hidup ketika seseorang:
• Hadir saat umat membutuhkan
• Memberi tanpa menuntut pengakuan
• Menenangkan, bukan memanaskan
• Mendekat tanpa merendahkan
Semua itu jarang viral. Tetapi justru di sanalah keikhlasan diuji.

Khidmah: Jalan Sunyi yang Jarang Dipilih

Dalam khazanah tasawuf, ada satu kata yang sangat mulia namun jarang dirayakan: khidmah—melayani tanpa merasa lebih tinggi, memberi tanpa merasa berjasa.

Banyak orang sanggup berbuat baik, tetapi sedikit yang sanggup melupakan kebaikannya sendiri. Padahal, di situlah letak kemurnian amal.

Imam al-Ghazali mengingatkan,
“Barang siapa sibuk memperbaiki dirinya di hadapan Allah, Allah akan memperbaiki namanya di hadapan manusia tanpa ia sadari.”

Khidmah tidak membutuhkan panggung. Ia tidak menunggu sorotan. Ia berjalan pelan, sering tidak dikenal, dan kadang tidak dihargai. Namun justru itulah jalan para pecinta Allah.

Datang Tanpa Nama

Dalam satu peristiwa duka di tengah masyarakat, yang paling diingat bukanlah jabatan siapa yang hadir, melainkan bagaimana seseorang hadir.

Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada barisan kamera.
Tidak ada penyebutan gelar.

Yang terasa hanyalah kehadiran yang menenangkan —duduk bersama, mendengar tanpa menggurui, menunduk dalam empati. Sejenak, posisi ditanggalkan. Yang tersisa hanyalah seorang manusia di hadapan manusia lain yang sedang rapuh.

Dalam tasawuf, ini adalah latihan hati yang berat:
hadir tanpa ingin dikenang.

Di titik itu, fungsi hidup.
Bukan karena besar,
tetapi karena tulus.

Dan sering kali, kebaikan yang paling menggetarkan hati justru adalah kebaikan yang tidak sempat diberi nama.

Memberi Lalu Menghilang

Ada pemberian yang membuat penerimanya merasa berutang seumur hidup.

Ada kebaikan yang diam-diam berubah menjadi alat ikatan.

Namun ada pula pemberian yang datang tanpa syarat, lalu pergi tanpa jejak. Setelah membantu, tidak ada penagihan loyalitas. Tidak ada pengingat jasa. Tidak ada kunjungan untuk memastikan nama terus diingat.

Tasawuf menyebut ini sebagai ikhlas yang matang:
memberi, lalu melepaskan rasa memiliki.

Ibnu ‘Athaillah menulis dengan nada yang menampar hati:

“Tanda amal diterima adalah ketika engkau tidak lagi sibuk menagih balasannya.”

Di sinilah fungsi bekerja paling sunyi. Tidak membangun ketergantungan. Tidak mengikat hati manusia. Hanya memastikan amanah sampai, lalu pergi.

Dan di titik ini, sering kali air mata jatuh—
karena ternyata memberi tanpa ingin dimiliki adalah amal yang sangat mahal.

Tasawuf yang Membumi, Bukan yang Dipamerkan

Tasawuf bukan sekadar wirid yang terdengar, atau simbol yang dikenakan. Tasawuf juga hadir dalam cara seseorang memikul kekuasaan:
• Tidak kasar saat mampu menekan
• Tidak pongah saat mudah memberi
• Tidak bengis saat berbeda pandangan

Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:

“Tasawuf adalah akhlak. Barang siapa bertambah akhlaknya, bertambahlah tasawufnya.”

Ketika kekuasaan tidak mematikan rasa takut kepada Allah,
ketika harta tidak melumpuhkan empati,
dan ketika posisi tidak mengeraskan hati,
di situlah tasawuf menemukan wajah sosialnya.

Tasawuf yang tidak berteriak,
tetapi menangis diam-diam dalam sujud malam.

Belajar, Bukan Menobatkan

Tulisan ini bukan untuk menobatkan siapa pun sebagai sufi atau wali. Tasawuf justru mengajarkan kita menahan lidah dari klaim, karena maqam ruhani adalah rahasia Allah.
Yang pantas kita lakukan hanyalah belajar.

Belajar bahwa:
• Posisi bisa dijalani dengan adab
• Pengaruh bisa digunakan untuk merawat
• Kekuasaan bisa dilewati tanpa membuat hati tertawan

Dan yang terpenting, belajar bahwa fungsi yang hidup lebih dicintai Allah daripada posisi yang diagungkan manusia.

Penutup: Tangisan yang Seharusnya Kita Miliki

Tulisan ini sejatinya bukan tentang seorang tokoh.
Ia adalah cermin untuk kita semua.

Apakah selama ini kita:
• Mengejar posisi, tetapi melupakan fungsi
• Menjaga citra, tetapi melalaikan amanah
• Ingin dikenang manusia, tetapi lupa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah

Semoga Allah melembutkan hati kita,
agar jika suatu hari diberi posisi—sekecil apa pun—
kita tidak sibuk menikmatinya,
tetapi sibuk menghidupkan fungsinya.

Karena kelak, di hadapan-Nya,
yang ditanya bukan di mana kita duduk,
tetapi untuk apa kita dihadirkan.

— Rumah Dakwah as-Sakinah