Oleh: Islahuddin Panggabean
DI penghujung 2025, dinamika politik Sumatera Utara diwarnai peristiwa politik yang tampak tidak sehat. Penuh intrik. Tanpa ‘tedeng aling-aling’ dua pimpinan partai di Sumut ‘dihabisi’ pimpinan pusat.
Keduanya, Musa Rajekshah (Ijeck) dan Nezar Djoeli (Maknyak). Ijeck dicopot mendadak dari Ketua DPD Golkar Sumut oleh ketua umumnya: Bahlil Lahadalia.
Sebelumnya, kondisi serupa dialami Nezar Djoeli yang menjabat Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia dicopot sekenanya oleh Ketua Umum Kaesang Pangarep.
Ya, keduanya dicopot tanpa salah yang berarti. Bahkan, kedua sosok ini dinilai tokoh berprestasi di masing-masing partainya. Betapa tidak, kedua tokoh politik yang bersahabat sejak masa remaja ini telah berjuang bersama-sama memenangkan pasangan Prabowo-Gibran di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Tapi lacur, keduanya seolah dihancurkan dengan ‘bengis’ tanpa belas kasihan.
Diduga kuat: mereka dikorbankan, ditumbalkan, bahkan ingin dilenyapkan oleh syahwat politik elite ibukota, agar tak bersinar di tahun-tahun mendatang. Benarkah demikian?
Pemenang yang Tak Diinginkan
Sebut saja Ijeck, sapaan akrab Musa Rajekshah, ia adalah fenomena keganjilan politik paling nyata. Sebagai Ketua DPD Golkar Sumut, ia sukses memberikan rapor emas dengan membawa Golkar merajai perolehan kursi di Sumatera Utara pada Pileg lalu. Secara logika organisasi, keberhasilan ini adalah tiket otomatis menuju kursi calon gubernur.
Tapi sayang seribu sayang, kini Ijeck dipaksa tunduk pada ambisi pimpinan pusat yang lebih tertarik pada “magnet” dari solo.
Begitu juga dengan Nezar Djoeli. Ketua PSI Sumut yang sukses mengawal Kongres beberapa waktu lalu ini seperti tak dianggap. Padahal, dengan kemampuannya, Nezar Djoeli termasuk salah satu ketua Dewan Pimpinan Wilayah yang membuat Kongres PSI menjadi hangat dan berkualitas dengan menangnya Sosok Caketum Bro Ron (Ronald Sinaga).
Tapi, begitu mudahnya Kaesang mencopot sang nakhoda yang telah membangun struktur partai sejak awal. Bahkan, sosok petarung yang ikut memenangkan Prabowo – Gibran di Pilpres lalu, serta dan Bobby – Surya di Sumut ‘dibuang’ begitu saja. Tanpa koordinasi ataupun komunikasi.
Ini adalah bukti betapa ambisi kekuasaan bisa dengan mudah melindas tokoh-tokoh berpotensi di daerah, yang sudah berdarah-darah membangun partai. Sayang, sangat disayangkan.(*)