Categories: Kolom

Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Lupa Bahwa Kita Akan Mati

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Lupa Bahwa Kita Akan Mati
Oleh Ust Abdul Latif Khan

Ada satu kepastian yang kita tahu…
tapi jarang kita rasakan:

kita akan mati.

Bukan orang lain.
Bukan mereka yang sakit.
Bukan mereka yang sudah tua.

Kita.

Namun anehnya,
kita hidup seolah-olah kematian adalah berita untuk orang lain.

Kita Mengantar, Tapi Tidak Bersiap

Kita pernah berdiri di samping liang kubur.
Pernah melihat tanah ditimbun.
Pernah mendengar talqin dibacakan.

Kita menangis.
Kita terdiam.

Lalu beberapa hari kemudian,
kita kembali sibuk.
Kembali lalai.
Kembali menunda.

Seakan-akan kubur itu tidak pernah menunggu kita.

Padahal Allah berfirman:

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Bukan kemungkinan.
Bukan mungkin.
Tapi pasti.

Mihrab Maya dan Ilusi Keabadian

Di dunia digital,
nama kita bisa terus muncul.
Foto kita tersimpan.
Tulisan kita dibagikan.

Seolah-olah kita akan terus ada.

Padahal suatu hari,
yang tersisa dari kita hanyalah
jejak amal.

Bukan arsip foto.
Bukan rekaman suara.
Bukan komentar panjang.

Hanya amal.

Dan amal itu sedang ditulis sekarang.

Kematian Tidak Selalu Memberi Tanda

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan: kematian.”¹

Bukan untuk menakut-nakuti.
Tapi untuk menyadarkan.

Karena yang sering kita lupakan
adalah yang paling dekat.

Kematian tidak selalu datang dengan sakit panjang.
Tidak selalu didahului pesan perpisahan.

Ia bisa datang saat kita tertawa.
Saat kita berkendara.
Saat kita sedang merencanakan masa depan.

Dan yang paling menyedihkan…
bisa jadi datang saat kita jauh dari Allah.

Mengapa Kita Takut Mengingatnya?

Karena kematian membongkar ilusi.

Ia mengingatkan bahwa harta tidak abadi.
Jabatan tidak ikut masuk kubur.
Popularitas tidak menerangi liang lahat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa banyak mengingat mati akan melembutkan hati dan mematahkan cinta dunia.²

Karena ketika kita benar-benar sadar akan mati,
kita tidak akan mudah sombong.
Tidak akan mudah menunda taubat.
Tidak akan mudah menyakiti orang.

Bayangkan Malam Pertama di Kubur

Coba hentikan sejenak bacaan ini.

Bayangkan diri kita dibaringkan di liang kubur.
Tanah menutup tubuh kita.
Orang-orang pulang.

Sunyi.

Tidak ada sinyal.
Tidak ada suara notifikasi.
Tidak ada yang bisa kita hubungi.

Yang menemani hanya amal.

Kalau hari ini adalah hari terakhir kita,
apakah kita siap dengan malam pertama itu?

Jangan Tunggu Sampai Ditangisi

Sering kita menangis saat orang lain meninggal.
Tapi jarang kita menangisi diri sendiri
yang pasti akan menyusul.

Dari mihrab maya ini,
mari kita jujur:

Sudahkah kita mempersiapkan bekal?
Sudahkah kita meminta maaf kepada yang kita sakiti?
Sudahkah kita membersihkan dosa yang kita sembunyikan?

Karena bisa jadi,
yang paling dekat dengan kita bukanlah masa depan…
tapi kematian.

Sebelum Nama Kita Disebut

Akan ada satu hari
nama kita disebut dalam kabar duka.

Akan ada satu hari
orang-orang berkata,
“Semoga Allah mengampuninya.”

Pertanyaannya bukan apakah hari itu datang.
Tapi dalam keadaan apa ia datang?

Maka sebelum itu tiba,
katakan:

“Ya Allah… jangan Engkau ambil aku dalam keadaan lalai.
Jangan Engkau ambil aku dalam keadaan menunda taubat.
Jadikan kematianku husnul khatimah.”

Karena pada akhirnya,
yang menentukan bukan seberapa lama kita hidup…
tapi bagaimana kita menutupnya.

Ini adalah Episode 10.

Dan mungkin yang paling sunyi.

Karena setiap kita tahu…
kita akan mati.

Tinggal satu pertanyaan yang tersisa:

Sudahkah kita benar-benar siap?

Catatan Kaki

1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang mengingat kematian.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang mengingat kematian dan melembutkan hati.
_______