Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Merasa Sudah Cukup Baik
oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada satu kalimat yang tidak pernah kita ucapkan… tapi sering kita rasakan:
“Aku sudah cukup baik.”
Tidak sempurna, memang. Tapi sudah lumayan. Sudah shalat. Sudah sedekah. Sudah ikut kajian. Sudah tidak seperti dulu.
Dan di situlah bahaya itu mulai tumbuh.
Bukan pada dosa besar. Tapi pada rasa aman yang palsu.
Rasa Aman yang Menipu
Allah berfirman:
“Maka janganlah kamu merasa aman dari makar Allah.” (QS. Al-A’raf: 99)
Merasa aman bukan berarti merasa pasti masuk neraka. Tapi merasa tenang dengan keadaan iman kita… seakan-akan sudah cukup.
Padahal iman itu naik dan turun. Dan hati itu mudah berbolak-balik.
Rasulullah ﷺ — manusia paling mulia — sering berdoa:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”¹
Kalau beliau saja takut hatinya berubah, mengapa kita begitu yakin dengan diri kita?
Dari Syukur Menuju Ujub
Ada perbedaan tipis antara bersyukur dan merasa lebih baik.
Bersyukur berkata: “Alhamdulillah, Allah masih memberi hidayah.”
Ujub berkata: “Aku memang lebih baik dari mereka.”
Dan ujub tidak selalu terdengar keras. Ia sering datang dalam bentuk perbandingan.
Kita melihat orang yang jarang ke masjid, lalu hati berkata, “Untung aku tidak seperti itu.”
Kita melihat orang yang terjerumus dosa, lalu hati berbisik, “Imanku lebih kuat.”
Hati-hati.
Karena mungkin satu sujud orang itu lebih tulus daripada seratus sujud kita.
Kisah yang Menggetarkan
Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seseorang yang berkata kepada saudaranya, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Aku telah mengampuninya dan Aku hapus amalmu.”²
Betapa mengerikan.
Orang yang merasa lebih baik justru kehilangan amalnya.
Sementara yang dianggap buruk diampuni.
Masalahnya bukan pada amal lahiriah. Tapi pada hati.
Mihrab Maya dan Ilusi Kebaikan
Di dunia digital, kita bisa terlihat sangat baik.
Status religius. Konten dakwah. Kutipan ayat.
Semua terlihat rapi.
Tapi apakah hati kita serapi feed kita?
Kadang kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun taqwa.
Kadang kita lebih takut kehilangan reputasi daripada kehilangan keikhlasan.
Dan saat orang memuji, hati terasa nyaman.
Itulah titik rawan.
Jangan Pernah Merasa Selesai
Imam dalam menjelaskan bahwa merasa diri sudah baik adalah awal dari kehancuran ruhani.³
Karena orang yang merasa cukup berhenti memperbaiki diri.
Ia berhenti menangis. Berhenti takut. Berhenti berharap.
Padahal perjalanan menuju Allah tidak pernah selesai selama kita masih bernapas.
Tanda Hati yang Masih Hidup
Orang yang dekat dengan Allah justru merasa paling kurang.
Semakin ia mengenal Allah, semakin ia merasa kecil.
Semakin ia beramal, semakin ia takut amalnya ditolak.
Ia tidak pernah berkata, “Aku sudah cukup baik.”
Ia berkata, “Ya Allah, terimalah.”
Mari Kita Turunkan Diri Kita
Dari mihrab maya ini, mari kita turunkan ego kita.
Kalau hari ini kita merasa lebih baik dari orang lain, mungkin kita sedang diuji.
Kalau hari ini kita merasa aman dengan iman kita, mungkin kita sedang lalai.
Katakan dalam hati:
“Ya Allah… jangan Engkau serahkan aku pada diriku sendiri walau sekejap. Jangan Engkau biarkan aku merasa cukup. Jadikan aku hamba yang selalu merasa butuh kepada-Mu.”
Karena mungkin keselamatan kita bukan pada banyaknya amal… tapi pada rendahnya hati.
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang doa memohon keteguhan hati.
2. Hadis riwayat Muslim tentang orang yang bersumpah Allah tidak akan mengampuni saudaranya.
3. , pembahasan tentang ujub dan penyakit hati.
___