Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Terlalu Sibuk Menilai Orang Lain
Oleh : Ust Abdul Latif Khan
Ada satu kebiasaan yang terasa ringan di lisan,
tapi berat di timbangan akhirat.
Kita cepat menilai.
Cepat menyimpulkan.
Cepat memberi label.
Di mihrab maya ini,
cukup dengan satu komentar,
kita bisa merasa lebih suci dari orang lain.
Dan tanpa sadar…
kita sedang membangun singgasana kecil untuk ego kita sendiri.
—
Kita Ahli Mengomentari, Tapi Lupa Mengoreksi
Melihat orang salah, kita geleng kepala.
Melihat orang jatuh, kita berbisik sinis.
Melihat orang berubah, kita curiga.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa ketika ia meremehkan saudaranya sesama Muslim.”¹
Betapa sering kita meremehkan.
Kita merasa lebih baik karena dosa orang lain terlihat,
sementara dosa kita tersembunyi.
Padahal di sisi Allah,
yang tersembunyi justru lebih berbahaya.
—
Mihrab Maya dan Budaya Menghakimi
Di dunia digital,
kita bisa menghakimi tanpa tatap muka.
Tanpa tahu latar belakangnya.
Tanpa tahu air mata yang ia sembunyikan.
Tanpa tahu perjuangan yang ia jalani.
Kita melihat satu potongan video,
lalu merasa tahu seluruh hidupnya.
Kita membaca satu status,
lalu merasa pantas memvonis imannya.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Sebagian prasangka adalah dosa.
Dan sering kali kita tidak merasa berdosa ketika berprasangka.
—
Kita Lupa Aib Kita Sendiri
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa orang yang sibuk mencari aib orang lain biasanya lalai terhadap aib dirinya sendiri.²
Mengapa kita mudah melihat noda di pakaian orang lain,
tapi tidak melihat lumpur di baju kita sendiri?
Mengapa kita tajam terhadap kesalahan orang,
tapi lunak terhadap kesalahan diri?
Barangkali karena menilai orang lain terasa lebih ringan
daripada mengoreksi diri sendiri.
—
Takutlah pada Kalimat Ini
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa seseorang bisa berkata tentang orang lain: “Ia celaka,” padahal justru ia yang paling celaka.³
Mengapa?
Karena mungkin orang yang kita nilai itu
sedang menangis dalam sujudnya.
Sedang berjuang melawan nafsunya.
Sedang memperbaiki dirinya diam-diam.
Sementara kita sibuk menilai,
tanpa pernah benar-benar memperbaiki.
—
Kesalahan Itu Manusiawi
Semua orang pernah salah.
Semua orang pernah jatuh.
Yang membedakan bukan siapa yang tidak pernah berdosa,
tapi siapa yang mau bertaubat.
Kalau Allah saja menutup aib hamba-Nya,
mengapa kita begitu senang membukanya?
Kalau Allah memberi waktu untuk berubah,
mengapa kita tergesa-gesa memvonis?
—
Ujian bagi Aktivis dan Penyeru
Bagi yang aktif berdakwah,
ujian ini lebih halus.
Kita merasa sedang membela agama,
tapi bisa jadi sedang membela ego.
Kita merasa sedang meluruskan,
tapi hati kita dipenuhi amarah.
Menegur itu mulia.
Tapi menegur tanpa rahmat bisa melukai.
Rasulullah ﷺ tidak datang untuk mempermalukan,
beliau datang untuk menyelamatkan.
—
Kembalilah pada Cermin
Sebelum menilai orang lain,
cobalah berdiri di depan cermin.
Tanyakan pada diri:
Sudahkah aku bebas dari dosa yang sama?
Sudahkah aku lebih baik dari yang aku nilai?
Sudahkah aku menangis atas kesalahanku sendiri?
Kalau belum…
mungkin yang perlu kita lakukan bukan mengomentari,
tapi bersujud.
—
Dari Vonis ke Doa
Alih-alih menulis komentar tajam,
cobalah tulis doa.
Alih-alih membagikan aib,
cobalah bagikan rahmat.
Karena mungkin suatu hari kita yang jatuh,
dan kita berharap tidak ada yang menertawakan.
Maka dari mihrab maya ini,
mari kita minta:
“Ya Allah… sibukkan aku dengan memperbaiki diriku.
Jangan Engkau sibukkan aku dengan aib orang lain.
Lembutkan hatiku ketika melihat kesalahan.
Dan jadikan lisanku rahmat, bukan laknat.”
Karena mungkin keselamatan kita bukan pada banyaknya nasihat yang kita berikan…
tapi pada sedikitnya vonis yang kita ucapkan.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat Muslim tentang meremehkan sesama Muslim
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang menjaga lisan dan penyakit hati.
3. Hadis riwayat Muslim tentang orang yang berkata “ia celaka.”
———-