Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Berdiri di Ambang Akhir
Akhirnya kita sampai di satu titik
yang tidak bisa ditunda lagi.
Bukan lagi tentang rencana.
Bukan lagi tentang cita-cita.
Bukan lagi tentang “nanti”.
Tapi tentang akhir.
Setiap kita sedang berjalan menuju satu garis yang sama.
Tidak ada yang tahu kapan mencapainya.
Tapi semua pasti sampai.
Dan di ambang akhir itu,
tidak ada yang lebih penting
selain bagaimana kita menutup hidup ini.
—
Husnul Khatimah Bukan Kebetulan
Kita sering berdoa:
“Ya Allah, husnul khatimah.”
Tapi husnul khatimah tidak lahir tiba-tiba.
Ia bukan hadiah untuk yang lalai sepanjang hidup.
Ia buah dari hati yang terus dijaga.
Dari taubat yang tidak berhenti.
Dari muhasabah yang jujur.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada penutupnya.”¹
Artinya, yang terakhir itu menentukan.
Maka jangan hanya sibuk memulai.
Belajarlah menjaga sampai akhir.
—
Mihrab Maya dan Waktu yang Diam-Diam Habis
Hari ini kita masih membaca.
Masih menulis.
Masih bernapas.
Tapi waktu berjalan tanpa suara.
Tidak ada alarm yang berbunyi,
“Umurmu tinggal setahun.”
“Umurmu tinggal sebulan.”
Ia habis perlahan.
Dan sering kali kita baru sadar
ketika sudah terlalu dekat.
—
Jangan Tunggu Sakaratul Maut untuk Sadar
Sebagian orang baru benar-benar takut
ketika napas mulai berat.
Padahal saat itu
kesempatan hampir habis.
Allah berfirman:
“Dan tidaklah taubat itu diterima bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.’”
(QS. An-Nisa: 18)
Taubat bukan untuk detik terakhir.
Taubat untuk sekarang.
—
Apa yang Ingin Kita Tutup?
Kalau hari ini adalah halaman terakhir,
apa yang ingin kita tulis?
Apakah kita ingin menutupnya dengan lalai?
Atau dengan sujud?
Apakah kita ingin menutupnya dengan dendam?
Atau dengan maaf?
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menekankan pentingnya muhasabah harian agar akhir tidak mengejutkan.²
Orang yang menghisab diri setiap hari
tidak akan terlalu terkejut di hari terakhir.
—
Hidup Seakan Ini Hari Terakhir
Bukan berarti berhenti bermimpi.
Bukan berarti berhenti bekerja.
Tapi bekerja dengan hati yang sadar.
Berbicara dengan lisan yang dijaga.
Melangkah dengan niat yang bersih.
Setiap pagi berkata:
“Mungkin ini hari terakhirku.”
Bukan untuk takut berlebihan.
Tapi untuk hidup lebih sungguh-sungguh.
—
Doa di Ujung Perjalanan
Dari mihrab maya ini,
mungkin inilah doa yang paling jujur:
“Ya Allah… jangan Engkau akhiri hidupku dalam keadaan jauh dari-Mu.
Jangan Engkau tutup usiaku dengan dosa yang belum aku sesali.
Jadikan akhir hidupku lebih baik dari awalnya.
Dan pertemuan dengan-Mu sebagai pertemuan yang Engkau ridai.”
Karena pada akhirnya,
kita semua sedang berjalan menuju satu pintu.
Dan ketika pintu itu terbuka,
yang tersisa bukan lagi waktu…
tapi hasil dari apa yang kita lakukan selama ini.
—
Ini Episode 28.
Bukan akhir dari tulisan,
tapi pengingat bahwa hidup ini sendiri
sedang mendekati akhirnya.
Dan semoga ketika kisah kita selesai,
ia ditutup dengan cahaya.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat al-Bukhari tentang amal tergantung penutupnya.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang muhasabah dan persiapan akhir hayat.