Kolom

Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Lelah Berjuang dan Ingin Menyerah

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Lelah Berjuang dan Ingin Menyerah

Oleh Ust Abdul Latif Khan

Ada fase yang jarang diceritakan dalam perjalanan menuju Allah.

Bukan fase semangat. Bukan fase menangis tersedu-sedu. Bukan fase penuh cahaya.

Tapi fase lelah.

Lelah melawan diri sendiri. Lelah jatuh bangun. Lelah merasa tidak banyak berubah.

Dan di titik itu, muncul satu bisikan pelan: “Mungkin sudah cukup… mungkin aku tidak akan pernah benar-benar bisa.”

 

Lelah Itu Manusiawi

Bahkan hati yang paling tulus pun bisa lelah.

Para sahabat pernah mengadu kepada ﷺ tentang naik turunnya iman mereka. Beliau tidak memarahi. Beliau memahami.¹

Artinya, turun itu wajar. Lelah itu manusiawi.

Yang tidak wajar adalah berhenti kembali.

 

Ketika Doa Terasa Sunyi

Ada masa ketika kita berdoa, tapi tidak merasakan apa-apa.

Shalat terasa hambar. Al-Qur’an terasa biasa. Air mata sulit turun.

Kita bertanya dalam hati, “Ya Allah, apakah Engkau masih mendengarkanku?”

Padahal Allah berfirman:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Putus asa bukan karena Allah jauh. Tapi karena kita lelah menunggu.

 

Mihrab Maya dan Perbandingan yang Melelahkan

Di dunia digital, kita sering membandingkan diri.

Melihat orang lain lebih rajin. Lebih istiqamah. Lebih khusyuk.

Dan kita merasa kecil.

Padahal perjalanan setiap jiwa berbeda.

Imam dalam menjelaskan bahwa setan sering menyerang orang yang sedang berjuang dengan rasa putus asa.²

Bukan dengan dosa besar. Tapi dengan lelah yang berkepanjangan.

 

Jangan Menyerah di Tengah Jalan

Bayangkan seseorang berjalan jauh menuju cahaya.

Ia sudah menempuh setengah perjalanan. Lalu ia berkata, “Aku lelah,” dan ia berhenti.

Padahal mungkin cahaya itu tinggal beberapa langkah lagi.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Ash-Sharh: 6)

Bukan setelah. Bersama.

Artinya di dalam lelah itu sendiri, Allah sedang menyiapkan pertolongan.

 

Istirahat Bukan Berarti Mundur

Kalau lelah, istirahatlah.

Tapi jangan berhenti.

Kurangi target. Sederhanakan amal. Perbaiki niat.

Mungkin tidak perlu banyak. Cukup satu sujud yang jujur. Cukup satu istighfar yang dalam.

Karena Allah tidak menuntut kesempurnaan. Allah melihat kesungguhan.

 

Dari Ingin Menyerah ke Ingin Berserah

Ketika lelah datang, jangan katakan, “Aku menyerah.”

Katakan, “Ya Allah, aku berserah.”

Ada perbedaan besar.

Menyerah berarti berhenti. Berserah berarti menyerahkan lelah kepada-Nya.

Katakan dalam sujud:

“Ya Allah… aku lelah. Aku sering jatuh. Aku sering gagal. Tapi jangan Engkau biarkan aku pergi. Pegang aku walau aku lemah.”

Karena mungkin kemenangan terbesar bukan pada tidak pernah lelah… tapi pada tidak pernah berhenti kembali.

Karena hampir setiap kita pernah ada di titik itu.

Lelah. Diam. Ingin berhenti.

Tapi selama hati masih ingin kembali, itu tanda Allah belum meninggalkan kita.

Catatan Kaki

1. Hadis riwayat Muslim tentang naik turunnya iman para sahabat.
2. , pembahasan tentang putus asa dan tipu daya setan.