Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Pulang dengan Hati yang Diridhai
Akhirnya… kita sampai di sini.
Bukan pada akhir tulisan.
Bukan pada akhir kata-kata.
Tapi pada satu bayangan yang paling sunyi:
pulang.
Setelah perjalanan panjang—
jatuh dan bangun,
lalai dan taubat,
lelah dan kembali—
yang kita harapkan hanya satu:
pulang dalam keadaan diridhai.
—
Panggilan yang Kita Impikan
Allah berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Itulah panggilan yang kita rindukan.
Bukan panggilan dunia.
Bukan panggilan jabatan.
Bukan panggilan popularitas.
Tapi panggilan dari Allah.
“Ridha dan diridhai.”
Betapa indahnya jika hidup yang penuh cela
ditutup dengan ridha-Nya.
—
Kita Tidak Sempurna, Tapi Kita Kembali
Selama serial ini, kita belajar satu hal:
Kita bukan manusia tanpa dosa.
Kita bukan jiwa tanpa cacat.
Kita jatuh.
Kita lalai.
Kita sering menunda.
Tapi kita kembali.
Dan mungkin bukan kesempurnaan yang Allah cari.
Tapi kesungguhan untuk kembali.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.”¹
Maka pulang bukan milik yang tidak pernah salah.
Pulang milik yang tidak pernah berhenti kembali.
—
Mihrab Maya dan Kesadaran Terakhir
Di dunia ini kita bisa mengatur citra.
Bisa memperbaiki tampilan.
Bisa menyusun narasi.
Tapi ketika pulang,
yang dibawa bukan citra.
Bukan cerita.
Yang dibawa hanya hati.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati bertemu Allah dalam keadaan bersih dan penuh cinta.²
Dan itulah pulang yang sejati.
—
Jika Hari Ini Adalah Hari Itu
Kalau hari ini adalah hari terakhir kita,
apakah kita siap dipanggil dengan lembut?
Apakah hati kita sudah cukup bersih?
Apakah dendam sudah kita lepaskan?
Apakah taubat sudah kita tuntaskan?
Kalau belum,
masih ada waktu.
Selama napas masih ada,
pintu masih terbuka.
—
Doa Penutup Perjalanan
Dari mihrab maya ini,
inilah doa terakhir kita dalam perjalanan panjang ini:
“Ya Allah… jika Engkau takdirkan aku pulang hari ini,
panggillah aku dalam keadaan Engkau ridha.
Bersihkan hatiku sebelum Engkau ambil ruhku.
Jangan Engkau tutup kisahku dengan kelalaian.
Jadikan akhirku seindah harapan kepada-Mu.”
Karena pada akhirnya,
hidup ini bukan tentang seberapa lama kita tinggal…
tapi bagaimana kita pulang.
—
Ini Episode 30.
Bukan akhir dari muhasabah.
Tapi awal dari kehidupan yang lebih sadar.
Semoga ketika benar-benar tiba saatnya,
kita pulang…
bukan sebagai jiwa yang ketakutan,
tapi sebagai jiwa yang tenang.
Ridha… dan diridhai.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang setiap anak Adam banyak bersalah dan sebaik-baiknya adalah yang bertaubat.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang kebahagiaan jiwa dan pertemuan dengan Allah.