Kolom

Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Maksiat Lifestyle di Era Digital

Serial dari Mihrab Maya

Ditulis oleh Ust Abdul Latif Khan

Pembina Alhijrah Islamic Global School

Ada satu hal yang pelan-pelan berubah di zaman ini.
Dulu maksiat sering dilakukan sembunyi-sembunyi.
Orang masih punya malu.
Masih ada rasa takut jika diketahui orang lain.
Masih ada getar kecil dalam hati: “Ini salah. Ini dosa.”

Tapi hari ini, banyak maksiat justru berubah wajah.
Ia tidak lagi selalu tampil sebagai dosa yang menakutkan.
Ia dibungkus menjadi hiburan.
Dikemas menjadi tren.
Dijadikan gaya hidup.
Lalu disebarkan dengan sangat cepat melalui layar-layar kecil di genggaman kita.

Yang dulu membuat orang menunduk malu,
hari ini justru dipamerkan.

Yang dulu disebut aib,
hari ini disebut ekspresi diri.

Yang dulu membuat hati gemetar,
hari ini malah diberi musik, filter, caption lucu, dan ribuan tanda suka.

Kita hidup di satu zaman ketika maksiat tidak hanya dikerjakan,
tetapi juga dipromosikan.
Tidak hanya dinikmati,
tetapi juga dinormalisasi.
Tidak hanya ditoleransi,
tetapi dijadikan identitas.

Dan yang lebih menyedihkan—
banyak hati tidak lagi merasa itu berbahaya.

Ketika Dosa Tidak Lagi Terasa Sebagai Dosa

Inilah musibah terbesar.
Bukan sekadar banyaknya dosa.
Tetapi hilangnya rasa berdosa.

Seseorang masih merasa takut jika rumahnya kemasukan pencuri.
Masih panik jika uangnya hilang.
Masih gelisah jika namanya tercemar.
Tapi mengapa ia tidak gelisah ketika iman dalam hatinya dicuri sedikit demi sedikit oleh tontonan, percakapan, kebiasaan, dan candu digital yang kotor?

Bukankah hati juga bisa rusak?
Bukankah ruh juga bisa sesak?
Bukankah dosa yang terus diulang akan meninggalkan titik hitam yang makin lama makin menutup cahaya batin?

Kita sering mengira maksiat itu hanya zina, mabuk, judi, atau kezaliman besar yang kasat mata.
Padahal di era digital, pintu-pintu maksiat itu menjadi jauh lebih halus.

Mata bermaksiat lewat scroll.
Telinga bermaksiat lewat konten yang kotor.
Lidah bermaksiat lewat komentar yang tajam, fitnah, gibah, hinaan, dan caci maki.
Hati bermaksiat lewat iri, ria, haus validasi, dan cinta pujian.
Waktu bermaksiat lewat kelalaian tanpa ujung.
Jari-jari bermaksiat lewat apa yang diketik, dibagikan, disukai, dan disebarkan.

Betapa banyak orang hari ini tidak keluar rumah untuk berbuat dosa,
tetapi dosa masuk ke rumahnya, masuk ke kamarnya, masuk ke sajadahnya, masuk ke jam-jam sepinya—
melalui layar yang selalu menyala.

Maksiat yang Dibuat Tampak Biasa

Setan sangat cerdas.
Ia tidak selalu mengajak manusia langsung jatuh ke jurang.
Kadang ia cukup membuat jurang itu tampak indah.

Ia membuat aurat terasa biasa.
Ia membuat ikhtilat tanpa batas terasa modern.
Ia membuat pamer kehidupan terasa wajar.
Ia membuat candaan kotor terasa lucu.
Ia membuat musik dan tontonan yang melalaikan terasa menemani jiwa.
Ia membuat gaya hidup hedonis terasa seperti standar kebahagiaan.
Ia membuat manusia merasa bahwa selama semua orang melakukannya, maka itu bukan masalah.

Padahal kebanyakan orang tidak pernah menjadi ukuran kebenaran.

Di sinilah bahaya besar era digital:
kita tidak hanya berhadapan dengan maksiat sebagai perbuatan,
tetapi maksiat sebagai budaya.

Ia hadir dalam bahasa sehari-hari.
Dalam selera.
Dalam tontonan.
Dalam algoritma.
Dalam cita rasa hidup.
Dalam cara orang menilai keren dan tidak keren.
Dalam definisi bebas dan tidak bebas.

Akhirnya banyak orang tidak sadar bahwa yang sedang mereka pertahankan bukan lagi sekadar kebiasaan,
tetapi pola hidup yang menjauhkan hati dari Allah.

Lifestyle yang Merusak Rasa Malu

Rasa malu adalah cahaya.
Ketika malu kepada Allah mulai pudar, manusia akan berani melampaui batas.

Mengapa hari ini begitu banyak orang ringan membuka aurat?
Mengapa ringan memamerkan kemewahan?
Mengapa ringan membuat konten yang menggoda syahwat?
Mengapa ringan membagikan kemesraan yang tidak halal?
Mengapa ringan menertawakan agama, meremehkan nasihat, dan memelintir kebenaran demi hiburan?

Karena malu sedang direnggut dari hati.

Dan ketika malu hilang,
yang tersisa hanyalah keberanian untuk bermaksiat dan kreativitas untuk menghiasinya.

Lebih mengerikan lagi, maksiat itu kemudian ditonton oleh ribuan orang, ditiru oleh banyak hati yang lemah, lalu menjadi dosa yang mengalir panjang.
Bukan hanya dosa pribadi, tetapi dosa berjamaah.
Bukan hanya dosa sesaat, tetapi jejak dosa yang terus hidup bahkan setelah pelakunya menutup mata.

Betapa banyak orang yang mungkin tidak pernah menyentuh minuman haram,
tetapi ia menjadi sebab orang lain tergoda pada maksiat lewat konten yang ia unggah.
Betapa banyak orang yang merasa hanya bercanda, padahal candanya sedang merusak akhlak generasi.
Betapa banyak yang merasa itu hanya hiburan, padahal hiburan itu sedang membunuh kepekaan hati.

Ketika Validasi Menjadi Tuhan Kecil

Salah satu penyakit besar di era digital adalah haus pengakuan.

Orang ingin dilihat.
Ingin dipuji.
Ingin dianggap menarik.
Ingin diakui eksis.
Ingin mendapat perhatian.
Ingin menjadi pusat tatapan.

Akhirnya banyak yang rela menggadaikan kehormatan demi engagement.
Rela membuka yang seharusnya ditutup.
Rela mengucapkan yang seharusnya dijaga.
Rela menari di hadapan dunia, padahal Allah sedang memandangnya.

Kita harus jujur bertanya kepada diri sendiri:
berapa banyak yang kita lakukan hari ini benar-benar karena Allah,
dan berapa banyak yang kita lakukan karena ingin dianggap?

Sebab ada orang yang tampak aktif,
tetapi jiwanya sedang kosong.
Ada yang tampak ceria di media sosial,
tetapi hatinya sepi dari dzikir.
Ada yang tampak bersinar di layar,
tetapi gelap ketika berdiri sendiri di hadapan Allah.

Itulah tragedi modern:
manusia terlihat hidup di mata manusia,
tetapi mati rasa di hadapan Rabb-nya.

Hati yang Kian Sulit Menangis

Maksiat lifestyle tidak selalu langsung menghancurkan hidup seseorang secara lahiriah.
Sering kali ia bekerja pelan-pelan.
Ia mengikis.
Ia menumpulkan.
Ia membuat hati keras sedikit demi sedikit.

Awalnya seseorang masih merasa bersalah.
Lalu terbiasa.
Lalu menikmati.
Lalu membela.
Lalu marah ketika dinasihati.

Di titik itu, yang rusak bukan cuma perilaku.
Yang rusak adalah nurani.

Hati menjadi sulit khusyuk.
Qur’an terasa tidak menyentuh.
Nasihat terasa mengganggu.
Majelis ilmu terasa membosankan.
Doa tak lagi basah.
Tangis taubat tak kunjung datang.

Bukan karena Allah menjauh.
Tetapi karena hati kita terlalu penuh oleh selain-Nya.

Betapa banyak orang menangis karena cinta dunia,
tetapi tidak menangis karena dosanya sendiri.
Betapa banyak yang gelisah karena tidak dibalas pesan,
tetapi tidak gelisah karena belum sungguh-sungguh bertaubat.
Betapa banyak yang takut kehilangan pengikut,
tetapi tidak takut kehilangan keberkahan hidup.

Jangan Anggap Ringan Apa yang Berulang

Ada yang berkata,
“Ini hanya hiburan.”
“Ini cuma sekali-sekali.”
“Semua orang juga begitu.”
“Yang penting hati baik.”

Kalimat-kalimat seperti ini sering menjadi selimut yang menipu.
Padahal yang berbahaya dalam maksiat digital justru pengulangan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Tanpa terasa.

Satu video kotor mungkin hanya lewat beberapa detik.
Satu komentar jahat mungkin hanya beberapa kalimat.
Satu unggahan ria mungkin hanya satu foto.
Satu musik yang melalaikan mungkin hanya beberapa menit.

Tetapi ketika itu menjadi rutinitas,
ia membentuk arah hati.

Dan hidup kita pada akhirnya dibentuk oleh apa yang berulang,
bukan hanya oleh apa yang sesekali.

Kalau yang berulang dalam hidup kita adalah dzikir, Qur’an, ilmu, shalat, sedekah, dan amal tersembunyi, maka insyaAllah jiwa kita akan condong kepada cahaya.
Tetapi kalau yang berulang adalah kelalaian, tontonan haram, gaya hidup pamer, candaan kotor, dan hubungan-hubungan yang mengundang murka Allah, maka jangan heran bila hati menjadi gelap.

Taubat di Tengah Layar yang Menyala

Namun tulisan ini bukan untuk membuat kita putus asa.
Tulisan ini untuk membangunkan.

Selama nafas masih ada, pintu taubat belum tertutup.

Mungkin selama ini kita terlalu jauh.
Mungkin akun kita menyimpan banyak jejak dosa.
Mungkin galeri kita penuh dengan hal-hal yang tidak Allah sukai.
Mungkin percakapan kita telah lama kotor.
Mungkin algoritma kita lebih mengenal syahwat kita daripada ruh kita.
Mungkin malam-malam kita habis oleh layar, bukan oleh munajat.

Tapi Allah masih memberi kita kesempatan.
Masih ada waktu untuk membersihkan.
Masih ada waktu untuk menghapus.
Masih ada waktu untuk berhenti.
Masih ada waktu untuk kembali.

Taubat hari ini mungkin dimulai dari hal yang sederhana:
menghapus konten yang mengundang dosa,
memutus hubungan yang haram,
menjaga pandangan,
membatasi layar,
memilih tontonan yang bersih,
meninggalkan akun-akun yang menggelapkan jiwa,
dan memulai lagi hubungan yang jujur dengan Allah.

Jangan tunggu sampai hati benar-benar mati.
Jangan tunggu sampai maksiat terasa sepenuhnya normal.
Jangan tunggu sampai maut datang saat jari masih sibuk menekan sesuatu yang mengundang murka-Nya.

Kembali Menjadi Hamba

Kita ini bukan diciptakan untuk menjadi budak tren.
Bukan untuk menjadi pengikut arus rusak.
Bukan untuk menjual kehormatan demi perhatian.
Bukan untuk menjadikan maksiat sebagai identitas.
Kita diciptakan untuk menjadi hamba Allah.

Hamba yang menjaga mata.
Menjaga hati.
Menjaga waktu.
Menjaga kehormatan.
Menjaga diri walau tidak dilihat manusia.
Menangis ketika sendiri.
Tunduk ketika dipuji.
Takut ketika tergoda.
Dan segera pulang ketika jatuh.

Sebab kemuliaan seorang mukmin bukan pada seberapa viral dirinya,
tetapi pada seberapa terjaga hubungannya dengan Allah.

Bukan pada seberapa banyak orang mengenalnya,
tetapi pada apakah Allah ridha kepadanya.

Penutup: Jangan Biarkan Dosa Menjadi Gaya Hidup

Saudaraku…
yang menakutkan bukan hanya saat kita bermaksiat.
Yang lebih menakutkan adalah saat kita menjadikan maksiat sebagai bagian dari gaya hidup, lalu tidak lagi merasa perlu bertaubat.

Hari ini mari kita bertanya kepada hati kita masing-masing:

Apakah layar kita mendekatkan kita kepada Allah, atau menjauhkan?
Apakah akun kita menjadi jalan pahala, atau sumber dosa?
Apakah waktu online kita bernilai ibadah, atau justru menjadi lorong panjang kelalaian?
Apakah yang kita nikmati diam-diam malam hari akan membuat kita malu jika ditunjukkan di hadapan Allah?

Jangan tunggu hati menjadi keras.
Jangan tunggu air mata menjadi mahal.
Jangan tunggu kubur yang menyadarkan.

Pulanglah.
Sebelum dosa menjadi budaya.
Sebelum budaya menjadi identitas.
Sebelum identitas itu mengantar kita jauh dari rahmat Allah.

Karena sesungguhnya,
seindah apa pun kemasan maksiat di era digital,
ia tetap racun bagi hati.

Dan sesunyi apa pun taubat seorang hamba,
ia tetap mulia di sisi Allah.