JAKARTA– Pengurus Besar Mathla’ul Anwar mengeluarkan Maklumat Dan Himbauan Tentang Penetapan dan Menyambut Awal Ramadhan 1447 Hijriah, Selasa (17/2/2026).
Dalam keterangannya, Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar Ketua Umum, KH. Embay Mulya Syarief menjelaskan bahwa himbauan ini disampaikan sehubungan dengan akan datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H.
“Pengurus Besar Mathla’ul Anwar dipandang perlu untuk mengeluarkan maklumat dan himbauan guna mengoptimalkankeberkahan bulan suci kepada seluruh warga Mathla’ul Anwar dan kaum muslimin secara umum,” ujarnya.
Adapun himbauan lengkap dari PB Mathla’ul Anwar sebagai berikut:
1) Mempersiapkan diri, menata niat dan membersihkan diri dari penyakit hati agar dapat menjalankan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan dan kegembiraan;
2) Mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan tilawatil Qur’an, Qiyamullail, pendidikan, pengajian, dan dakwah Islamiyah yang menyejukkan, sesuai dengan semangat Mathla’ul Anwar sebagai “Tempat Terbitnya Cahaya”;
3) Meningkatkan amal jariyah, zakat, infak, dan sedekah guna membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan;
4) Penetapan awal bulan Qamariyah, khususnya Ramadhan, merupakan persoalan ibadah yang memiliki landasan syariat dan keilmuan yang kuat. Mathla’ul Anwar senantiasa merujuk pada dua pendekatan utama:
a. Metode Rukyatul Hilal (Observasi): Mengacu pada perintah Rasulullah SAW untuk melakukan pengamatan hilal secara langsung di lapangan pada tanggal 29 Sya’ban.
Sebagaimana hadits shahih: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).
b. Metode Hisab (Perhitungan): Menggunakan disiplin ilmu falak sebagai instrument pendukung untuk memperkirakan posisi hilal secara akurat dan saintifik. Dalam hal ini, Mathla’ul Anwar mengikuti kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia,Malaysia, dan Singapura) sebagai standar Imkanur Rukyat (kemungkinan hilal dapat terlihat), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.
5) Berkenaan dengan kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat penetapan awal Ramadlan 1447 H, Pengurus Besar Mathla’ul Anwar menyampaikan hal-hal sebagai berikut :
a. Perbedaan penetapan awal Romadlon tersebut merupakan wilayah ijtihadiyah, oleh karena itu sesuai dengan perinsip khithah Mathla’ul Anwar khususnya prinsip ketiga dan keempat, yaitu berjama’ah dalam ibadah dan toleransi dalam khilafiyah, maka PBMA menghimbau warganya agar menyikapi perbedaan tersebut dengan penuh kearifan dan penuh toleransi, serta tidak perlu dipertentangkan dan dipermasalahkan.
b. Mathla’ul Anwar menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin (Ulil Amri) dalam urusan publik yang menyangkut kemaslahatan umat adalah suatu kewajiban syar’i. Hal ini selaras dengan kaidah fiqih: “Hukmul Imam Ilzam wa Yarfa’ul Khilaf” (Keputusan Pemimpin/Pemerintah mengakhiri perbedaan pendapat). Dan Pendapat al-Qarrafy dalam Kitabnya Anwar al-Buruq fi Anwa’ al Furuq, “Ketahuilah bahwa keputusan/kebijakan pemimpin/penguasa dalam berbagai persoalan ijtihad, menghilangkan dan menghapus perbedaan pendapat, kemudian bagi orang-orang yang berselisih wajib untuk menarik pendapatnya dan mengambil pendapat penguasa/hakim. (Abu al-Abbas Syihabuddin Ahmad bin Idris bin Abd al-Rahman al-Sanhaji, AsySyahir bi al-Qarafi, (t.t), Anwar al-Buruq fi Anwa’ al-Furuq. Beirut: Alam al-Kutub, 2/103)
Oleh karena itu, Pengurus Besar Mathla’ul Anwar menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus di tingkat Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, hingga Ranting, serta seluruh warga Mathla’ul Anwar untuk menanti pengumuman resmi dan menunggu hasil siding Isbat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI.
6) Mengembangkan sikap toleransi (tasamuh) dalam menjalankan agama sehingga tidak terjebak pada perselisihan dan konflik akibat perbedaan faham keagamaan, apalagi hanya mengenai persoalan-persoalan cabang (furui’yat), seperti tentang awal Ramadhan, satu Syawal, tata cara shalat tarawih dan sebagainya.
“Demikian maklumat dan himbauan ini disampaikan untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kemudahan bagi kita dalam menjalankan ibadah di bulan suci nanti. HadanAllah Waiyyakum ila Shirath mustaqim,” pungkas KH. Embay Mulya Syarief. (r/isl)