Jakarta — Organisasi kemasyarakatan Mathla’ul Anwar (MA) tengah merampungkan susunan kepengurusan terbarunya. Langkah ini menjadi penanda fase transformasi menuju organisasi yang lebih berpengaruh, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga dalam percaturan global.
Transformasi tersebut bertumpu pada konsolidasi elite kader yang kini mengisi posisi strategis. Para tokoh yang terlibat dinilai memiliki kapasitas struktural dan pengalaman yang dapat mendorong perubahan nyata bagi organisasi.
Di posisi Ketua Umum, Jazuli Juwaini dipercaya memimpin MA. Alumni Mathla’ul Anwar Teluk Ambulu, Karawang ini memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di parlemen, yang memberinya pemahaman mendalam terkait proses legislasi dan advokasi kebijakan.
Selain itu, kiprahnya di tingkat internasional—seperti Wakil Presiden Forum Anggota Parlemen Muslim Dunia, Presiden Justice and Democracy Forum Asia Pasifik, serta Utusan Tetap Inter-Parliamentary Union (IPU) untuk Timur Tengah—dinilai membuka akses strategis bagi MA ke panggung global.
Struktur kepengurusan semakin diperkuat oleh sejumlah Wakil Ketua Umum, antara lain Bonnie Triyana, Abdul Fikri Faqih, Arif Rahman, Muhammad Mursyid, Zaenal Abidin Suja’i, Muhammad Arif Kirdiat, dan Aat Surya Syafaat.
Bonnie Triyana, anggota Komisi X DPR RI, dikenal sebagai sejarawan dengan jejaring intelektual luas. Ia diharapkan mampu menjembatani MA dengan dunia pendidikan global. Sementara Abdul Fikri Faqih, dengan pengalaman panjang di DPR RI, diproyeksikan menjadi motor penguatan kebijakan pendidikan yang berpihak pada lembaga-lembaga MA.
Di sektor ekonomi umat, Arif Rahman yang bertugas di Komisi IV DPR RI diharapkan memperluas peran MA dalam bidang pertanian, lingkungan, perikanan, dan kelautan. Sementara itu, Muhammad Mursyid yang juga anggota DPD RI dan Ketua PW MA Riau diharapkan mampu mengintegrasikan kebijakan pusat dengan kebutuhan daerah.
Kekuatan organisasi juga ditopang oleh kalangan akademisi, intelektual muda, serta jaringan organisatoris yang tersebar di berbagai wilayah dan sektor, termasuk dari perguruan tinggi seperti Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA).
“Para pengurus baru ini diharapkan mampu membuka berbagai keterbatasan, mulai dari akses, jejaring, hingga posisi tawar organisasi dalam kebijakan publik,” ujar Jazuli Juwaini dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Dengan sinergi antara elite nasional, tokoh kultural, akademisi, dan generasi muda, Mathla’ul Anwar optimistis dapat naik kelas menjadi kekuatan strategis yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa—sejalan dengan makna namanya sebagai “tempat terbitnya cahaya.” (r/isl)