Categories: News

Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Hanya Membawa Hati ke Hadapan Allah

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Hanya Membawa Hati ke Hadapan Allah

Oleh ust Abdul Latif Khan

Akhirnya…
semua yang kita kumpulkan akan tertinggal.

Rumah tertinggal.
Nama tertinggal.
Jabatan tertinggal.
Pengikut tertinggal.

Bahkan keluarga yang kita cintai
hanya mengantar sampai kubur.

Dan ketika berdiri di hadapan Allah,
yang kita bawa bukan gelar,
bukan reputasi,
bukan pencapaian.

Kita hanya membawa satu hal:

Hati.

Hari Ketika Tidak Ada yang Berguna

Allah berfirman:

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

Hati yang selamat.

Bukan hati yang terkenal.
Bukan hati yang dipuji.
Bukan hati yang penuh dunia.

Tapi hati yang bersih.

Hati yang tidak menyimpan kesombongan.
Hati yang tidak dipenuhi riya’.
Hati yang tidak keras terhadap ayat-ayat Allah.

Mihrab Maya dan Hati yang Terlupakan

Di dunia ini kita sibuk memperindah yang terlihat.

Penampilan.
Profil.
Citra.

Tapi hati?

Ia jarang kita rawat.

Padahal Allah tidak melihat foto profil kita.
Tidak melihat jumlah pengikut kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”¹

Yang dilihat adalah hati.

Dan hati itu sedang kita bentuk setiap hari.

Hati yang Sakit, Hati yang Selamat

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa penyakit hati seperti riya’, ujub, hasad, dan cinta dunia bisa merusak amal tanpa kita sadari.²

Kita bisa tampak baik di luar,
tapi hati penuh luka.

Kita bisa tampak aktif berdakwah,
tapi hati haus pujian.

Dan ketika berdiri di hadapan Allah,
yang diuji bukan kulit luar…
tapi isi dalam.

Bayangkan Berdiri Sendiri

Bayangkan hari itu.

Semua makhluk berkumpul.
Semua amal terbuka.

Lalu kita berdiri sendiri.

Tidak ada yang bisa membela.
Tidak ada yang bisa menggantikan.

Dan Allah melihat hati kita.

Apakah ia penuh cinta kepada-Nya?
Ataukah penuh dunia?
Apakah ia lembut?
Ataukah keras?

Di momen itu,
tidak ada lagi yang bisa kita sembunyikan.

Rawatlah Hati Sejak Sekarang

Hati tidak menjadi selamat dalam sehari.

Ia dibentuk dari:

Taubat yang tulus.

Dzikir yang rutin.

Amal yang ikhlas.

Air mata yang jujur.

Setiap kali kita memaafkan,
hati dibersihkan.

Setiap kali kita menahan diri dari riya’,
hati diselamatkan.

Setiap kali kita memilih Allah daripada dunia,
hati dikuatkan.

Dari Mihrab Maya ke Hati yang Tenang

Dari seluruh perjalanan Serial Muhasabah ini,
mungkin inilah inti akhirnya:

Jangan terlalu sibuk memperbaiki yang terlihat,
lalu melupakan yang tersembunyi.

Karena suatu hari,
kita hanya membawa hati.

Maka mari kita berdoa:

“Ya Allah… bersihkan hatiku dari riya’ dan kesombongan.
Lembutkan ia dengan dzikir.
Hidupkan ia dengan cinta kepada-Mu.
Dan jadikan aku datang kepada-Mu dengan qalbun salim.”

Karena pada akhirnya,
yang menentukan bukan seberapa dikenal kita di dunia…
tapi seberapa bersih hati kita di hadapan Allah.

Ini Episode 27.

Dan mungkin ini bukan akhir…
tapi awal dari perjalanan menjaga hati.

Karena ketika hati selamat,
semuanya menjadi ringan.

Catatan Kaki

1. Hadis riwayat Muslim tentang Allah melihat hati dan amal.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang penyakit dan penyucian hati.