JAKARTA – Mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi ‘Indonesia Gelap’ di Patung Kuda, Jakarta Pusat, berhasil membongkar barier beton yang dipasang polisi, Kamis (20/2).
Dari pantauan wartawan, mereka membongkar barier dengan cara menarik menggunakan tali tambang. Tali itu dipasang di besi di atas barier beton.
Mahasiswa beramai-ramai lalu menarik tali itu untuk merobohkan barier beton.
“Tarik, 1, 2, 3,” kata orator dari mobil komando.
Polisi meminta mahasiswa untuk tidak membongkar barier beton.
“Kami mengimbau jangan menarik barier beton,” kata polisi melalui pengeras suara.
Satu barier beton pun berhasil dirobohkan mahasiswa.
Aksi hari ini merupakan lanjutan dari aksi yang digelar beberapa hari belakangan. Aksi-aksi di berbagai daerah mengangkat tema ‘Indonesia Gelap’.
Adapun besok, Jumat (21/2) adalah puncak aksi “Indonesia Gelap” yang akan dilakukan oleh mahasiswa bersama koalisi sipil.
Mensesneg Temui Pedemo
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menemui massa pedemo Indonesia Gelap di kawasan patung kuda, Jakarta, Kamis (20/2) sore.
Di depan Pedemo Prasetyo menyatakan, pemerintah telah mendengar tuntutan massa mahasiswa.
“Kami sudah membaca yang adik-adik tuntut,” kata Prasetyo.
Massa aksi Indonesia Gelap menuntut sejumlah poin. Di antaranya, meminta pemerintah menciptakan pendidikan gratis ilmiah dan demokratis serta batalkan pemangkasan anggaran pendidikan.
Mereka juga menuntut pemerintah mencabut proyek strategis nasional bermasalah, wujudkan reforma agraria sejati.
Massa juga menolak revisi Undang-Undang Minerba, dan menghapus multifungsi ABRI.
Massa Indonesia Gelap juga mendesak pemerintah mencabut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, yang dinilai sebagai ancaman terhadap bagian-bagian yang justru menjadi kepentingan rakyat seperti pendidikan dan kesehatan.
Prasetyo juga meminta maaf kepada massa karena baru dapat menemui massa sore hari.
“Pertama-tama kami mohon maaf kalau baru bisa hadir sore ini karena kebetulan masih ada kegiatan, atas izin dan restu dari bapak presiden, kami hadir mewakili pemerintah untuk berkomunikasi dengan adik-adik,” katanya.
Prasetyo juga menyatakan pemerintah menghormati aksi mahasiswa.
“Jadi adik-adik saya teruskan mewakili pemerintah. Kami senang adik-adik tetap menjadi mahasiwa yang kritis yang menyuarakan aspirasi menyuarakan aspirasi boleh, itu diatur Undang-Undang tetap dilindungi,” katanya.(cnni/bj)