JAKARTA – Indonesia dan Korea Selatan resmi memperkuat kemitraan strategis lewat penandatanganan 10 nota kesepahaman (MoU) dengan total nilai mencapai Rp173 triliun.
Pesiden RI Prabowo Subianto menegaskan, kerja sama ini menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus mempercepat transformasi ekonomi nasional.
Dalam kunjungan kenegaraan perdananya ke Seoul, Prabowo menyebut Korea Selatan sebagai mitra strategis yang memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia.
“Saya menganggap Korea sebagai sahabat dekat dan ingin meningkatkan kerja sama ini,” ujarnya.
Nilai Fantastis, Fokus ke Sektor Masa Depan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan total kesepakatan mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp173 triliun.
Kerja sama ini mencakup berbagai sektor strategis, antara lain:
* ⚡ Energi bersih & teknologi rendah karbon
* 🤖 Kecerdasan buatan (AI) untuk kesehatan & SDM
* 🔋 Pengembangan mineral kritis
* 🌊 Pembangkit listrik lepas pantai
* 💼 Keuangan & perlindungan hak kekayaan intelektual
Selain itu, kedua negara juga mendorong pembentukan dialog strategis komprehensif serta penguatan kerja sama ekonomi tahap lanjut (2.0).
Perkuat Posisi Indonesia di Indo-Pasifik
Kolaborasi ini turut melibatkan lembaga strategis seperti Danantara Indonesia dan Export-Import Bank of Korea, yang diharapkan memperkuat fondasi industri nasional.
Airlangga menilai kesepakatan ini semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra penting di kawasan Indo-Pasifik, dengan menggabungkan:
* Potensi sumber daya alam Indonesia
* Teknologi dan kapasitas industri Korea Selatan
Dampak Nyata yang Ditargetkan
Implementasi kerja sama ini diproyeksikan membawa dampak luas, antara lain:
* Peningkatan investasi asing
* Pembukaan lapangan kerja baru
* Penguatan ketahanan ekonomi nasional (Isl)