KAMMI: Akui Israel sama dengan Membenarkan Genosida dan Penjajahan

Internasional32 Dilihat

Jakarta – Kedatangan Presiden Prancis ke Indonesia menandai hubungan diplomatik kedua negara yang sudah 75 tahun. Momen pertemuan ini dimanfaatkan Presiden Prabowo untuk menyampaikan beberapa point penting kenegaraan, salah satu poin yang disampaikan tentang Palestina.

Pernyataan akan mengakui Israel sebagai negara ini yang menjadi polemik di tengah genosida.

Kesiapan Prabowo mengakui Israel disampaikan dalam pernyataan bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu (28/5/2025) lalu. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyatakan Indonesia akan mengakui Israel begitu Palestina merdeka, sesuai ketentuan solusi dua-negara.

BACA JUGA :  Anis Matta Paparkan Korelasi Indonesia dan Geopolitik di MUI

“Saya tegaskan bahwa kita juga harus mengakui dan menjamin hak Israel untuk berdiri sebagai negara yang berdaulat dan negara yang harus juga diperhatikan dan dijamin keamanannya,” kata Prabowo.

Ketua Umum PP KAMMI Ahmad Jundi, menyampaikan bahwa pihaknya menolak segala bentuk pengakuan dan eksistensi Israel karena mereka berdiri di atas penjajahan terhadap Palestina.

BACA JUGA :  Pulihlah, Kesatuanku : Terlalu Banyak yang Diam-Diam Menangis Melihatmu Retak

“Sudah terbukti dari berbagai  hukum international yang dilanggar,  pengkhianatan selalu mereka lakukan, Pemerintah jangan mudah tertipu oleh janji janji zionis Israel,” jelasnya dalam keterangan resminya, Sabtu (31/5/2025)

Di kesempatan yang sama, Jodi Setiawan Kepala Bidang Keummatan & Wawasan Keislaman, mengapresiasi langkah yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia dalam membela Palestina dalam semua forum-forum kenegaraan, tapi KAMMI menilai pernyataan baru baru ini mengakui Israel sebagai negara merupakan bentuk membenarkan genosida dan penjajahan.

BACA JUGA :  Srilanka Diterjang Banjir, Tewaskan 14 Orang dan Semua Sekolah Tutup

“Hingga saat ini, genosida yang terjadi di Gaza Palestina memasuki fase tertinggi dengan jumlah kematian lebih dari 54.000 orang meninggal,  dan 125.000 lebih orang terluka. Ini menandakan situasi yang harus mensegerakan genjatan senjata & kemerdekaan masyarakat Palestina,” tutup Jodi.