Oleh : Andri Saputra Lubis, M.Psi
__________
Di era yang penuh kebisingan digital dan kecamuk rutinitas, tak sedikit dari manusia yang menjalani hidup seperti robot: bergerak, bekerja, bergaul, dan berkeluarga, namun kehilangan kesadaran akan arah dan makna. Tampak aktif, tetapi hati seakan tidak hadir. Fenomena ini, dalam pandangan psikologi Islam, disebut sebagai ghaflah, yakni keadaan hati yang lalai dari hakikat keberadaan dan dari mengingat Allah.
Ghaflah bukan sekadar bentuk lupa, melainkan kondisi keterputusan batin dari pusat makna, yakni Tuhan. Ketika hati tidak lagi tersentuh oleh kehadiran Ilahi, segala aktivitas menjadi hampa, dan arah hidup pun kabur. Di tengah kesibukan yang terus bergulir, manusia sering kali tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan kehadiran ruhani yang paling esensial. Keterputusan ini melahirkan kehampaan eksistensial yang meresap ke dalam jiwa, menciptakan kegelisahan yang tak dapat dijawab oleh kesenangan duniawi.
Al-Ghazali, seorang pemikir besar Islam, menggambarkan ghaflah sebagai tirai yang menutup cahaya kebenaran dari hati manusia. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa kelalaian semacam ini membuat jiwa menjadi beku, tak lagi merasakan getaran ketika berbuat salah, dan jauh dari rasa haru saat mendekat kepada Allah. Bagi beliau, penyembuhan ghaflah tidak cukup hanya dengan ilmu, tetapi membutuhkan pelatihan batiniyah, seperti memperbanyak zikir, melakukan perenungan (tafakur), dan evaluasi diri (muhasabah).
Di ranah psikologi modern, terdapat beberapa istilah yang mirip dengan konsep ghaflah dalam Islam. Salah satunya adalah disconnection, yaitu keadaan di mana seseorang merasa terputus dari dirinya sendiri, lingkungan sekitar, maupun nilai-nilai yang biasanya menjadi pegangan hidupnya. Meskipun secara fisik aktif dan berinteraksi dengan dunia, secara batin orang tersebut kerap merasa kosong dan kehilangan arah.
Selain itu, ada juga istilah automatic behavior, yang menggambarkan pola hidup yang dilakukan secara mekanis tanpa kesadaran penuh. Orang yang menjalani kehidupannya dalam mode ini biasanya mengikuti rutinitas sehari-hari, tanpa benar-benar hadir atau merenungkan makna di balik setiap tindakannya. Kondisi ini menjadi gambaran modern dari ghaflah, di mana jiwa tidak terlibat secara aktif meski tubuh terus bergerak.
Lebih jauh lagi, konsep existential void menjelaskan suatu keadaan kekosongan makna hidup yang mendalam, ditandai dengan rasa hampa dan kebingungan akan tujuan hidup. Psikolog eksistensialis Viktor Frankl mengamati bahwa banyak orang masa kini merasa kehilangan makna tersebut, sehingga hidup mereka terasa seperti rangkaian rutinitas yang melelahkan dan menimbulkan kecemasan. Frankl menegaskan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kesenangan atau pencapaian; mereka memerlukan makna yang dapat memberi arah dan tujuan hidup.
Semua fenomena ini memiliki kesamaan dengan pandangan Islam, yang menyatakan bahwa tanpa kesadaran spiritual, jiwa manusia akan mudah terseret oleh nafsu dan godaan duniawi. Ketika seseorang dalam keadaan ghaflah, hatinya menjadi rapuh dan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai hakiki, sehingga rentan terhadap berbagai gangguan batin, dan merasa mudah melakukan kemaksiatan.
Dalam pendekatan psikologi Islam, persoalan kelalaian spiritual telah dibahas secara mendalam oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah. Melalui karya monumentalnya Madarij al-Salikin, beliau menjelaskan bahwa ghaflah atau lalai dari kesadaran ilahiyah merupakan akar dari berbagai gangguan jiwa, seperti sifat sombong, munafik, iri hati, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia. Menurutnya, pemulihan kondisi ini tidak cukup hanya melalui perubahan cara berpikir secara rasional, tetapi membutuhkan proses tarbiyah al-nafs, yaitu pembinaan ruhani yang berkelanjutan, yang menumbuhkan kesadaran diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah secara perlahan namun mendalam.
Jika pendekatan mindfulness dalam psikologi Barat melatih seseorang untuk hadir secara utuh dalam momen sekarang, maka Islam membawa kesadaran ini ke level yang lebih tinggi: hadir bukan hanya terhadap waktu, tetapi terhadap Tuhan. Zikir bukan hanya pengulangan lisan, tetapi latihan mental untuk menghadirkan Allah dalam kesadaran kita. Begitu pula muhasabah dan tafakur adalah bentuk perhatian mendalam terhadap kualitas batin dan arah hidup.
Tantangan terbesar di zaman ini, bahwa ghaflah tidak datang melalui kekosongan, melainkan melalui kesibukan yang tak berhenti. Informasi datang bertubi-tubi, media sosial menuntut perhatian, teknologi terus menyita waktu, dan ambisi dunia terus memburu. Inilah bentuk baru ghaflah: terus bergerak tapi tidak pernah benar-benar hadir.
Dr. Malik Badri, tokoh penting dalam psikologi Islam modern, menyatakan bahwa manusia masa kini menderita karena tercerabut dari akar spiritualnya. Dalam bukunya Contemplation, ia menyebut bahwa kontemplasi yang dalam terhadap ciptaan dan pencipta adalah sarana utama untuk menyembuhkan kelelahan batin modern.
Mengatasi ghaflah adalah proses yang membutuhkan keberanian dan komitmen. Ia tidak hanya soal menjauh dari distraksi, tetapi juga soal menyambung kembali diri dengan Tuhan. Dalam Islam, kesadaran bukan sekadar alat untuk mengatur emosi atau stres, tetapi jalan menuju hidup bermakna, mempertebal iman dan taqwa, bahkan mencapai makrifatullah.
Zikir, shalat dengan hati yang khusyuk, membaca Al-Qur’an dengan merenungi maknanya, introspeksi diri setia saat, serta tafakkur atas makna kehidupan, adalah bagian dari strategi spiritual yang telah diwariskan ulama klasik. Ini sejalan dengan temuan-temuan psikologi modern: bahwa manusia yang hidup dengan kesadaran dan makna lebih cenderung bahagia, stabil, dan sehat jiwanya.
Kesadaran dalam perspektif Islam bukan sekadar hadir di saat ini, tetapi hadir bersama Tuhan dalam setiap momen. Kehadiran yang demikian melahirkan kekuatan batin, memperkuat iman, dan menumbuhkan rasa syukur dalam menjalani hidup. Ketika jiwa kembali menemukan makna melalui relasinya dengan Allah, maka kebahagiaan dan ketenteraman pun akan menyertai.
Dalam dunia yang terus menuntut keterlibatan dan koneksi tanpa henti, sering kali justru ketenangan ditemukan saat seseorang mampu diam sejenak, menyendiri dalam kehadiran ilahiyah. Keheningan bukan bentuk pelarian, tetapi ruang penyembuhan. Hanya hati yang terbangun, yang terjaga dari kelalaian, yang mampu melihat kehidupan dalam cahaya kebenaran dan menjalani setiap langkah dengan penuh makna dan keteguhan.
Maka, dalam dunia yang mendorong kita untuk terus online dan aktif, yang paling menyembuhkan justru adalah diam sejenak untuk mendengarkan suara hati, menyambung kembali ruh dengan Yang Maha Hidup. Karena pada akhirnya, hanya hati yang terjaga yang mampu menjalani hidup yang penuh makna.
__________
Penulis adalah mahasiswa Doktoral UIN Sumatera Utara, Dosen STAI Raudhatul Akmal, Penjaminan Mutu Ponpes Darul Adib Medan, dan Pimpinan Rumah Tahfiz Al-Munif
