Nezar Djoeli: Spanduk Turunkan Wali Kota Medan Diduga Ditunggangi Aktor Tertentu

Medan183 Dilihat

MEDAN – Tokoh masyarakat Sumatera Utara, H.M. Nezar Djoeli, S.T., menilai spanduk yang menyerukan penurunan Wali Kota Medan di sejumlah ruas jalan yang ada di kota Medan, adalah “provokatif,” menurutnya hal itu bukan murni gerakan mahasiswa.

H.M. Nezar Djoeli, S.T., menduga ada pihak tertentu yang mendalangi sehingga dinamika tersebut terjadi.

“Spanduk-spanduk itu terlihat tercetak rapi, tertata masif, dan membutuhkan biaya besar, baik cetak dan memasangnya. Saya tidak yakin itu murni inisiatif adik-adik mahasiswa Cipayung Plus, ada indikasi aktor intelektualnya di balik layar yang memanfaatkan situasi ini,” ujar Nezar, Sabtu (21/2/2026).

BACA JUGA :  Tim SULING Syawal KUA Medan Perjuangan Kunjungi Masjid Jamik Sentosa, Dorong Penguatan Remaja Masjid

Menurutnya, isi spanduk bukan lagi kritik kebijakan, melainkan sudah mengarah pada serangan personal terhadap wali kota. Hal itu dinilai tidak mencerminkan etika kritik yang sehat dalam demokrasi.

“Kritik seharusnya pada kebijakan dan kinerja institusi, bukan pada hal-hal personal yang bernuansa penghinaan. Ini berpotensi memecah belah masyarakat Kota Medan,” tegasnya.

Nezar juga mengingatkan bahwa masa jabatan Wali Kota Medan saat ini belum genap satu periode, bahkan baru satu tahun berjalan.

“Menjadi Walikota dan Wakil Walikota bukan bisa langsung revolusi ubah segala sesuatu dengan asal, perlu proses dan perencanaan dan waktu. Saya pikir publik, khususnya kalangan mahasiswa, dapat memberi ruang bagi pemerintah Kota untuk bekerja sebelum menjatuhkan penilaian yang terlalu dini,” ujarnya.

BACA JUGA :  Afif Abdillah Akan Panggil Anggota DPRD Kota Medan Berinisial AT Terkait Dugaan Penganiayaan RMS

“Kita harus objektif. Belum genap setahun menjabat, sudah ada beberapa capaian yang patut diapresiasi, seperti pengendalian banjir berbasis lingkungan hingga peningkatan pendapatan daerah yang mulai terlihat,” katanya.

Di bulan suci Ramadan, Nezar mengajak mahasiswa untuk mengedepankan cara-cara dialogis dalam menyampaikan aspirasi. Ia menilai mahasiswa sebagai kelompok intelektual seharusnya tampil dengan argumentasi dan solusi, bukan emosi dan provokasi.

BACA JUGA :  Pemko Medan Jalankan PKH Medan Makmur, Tahun Ini 10.000 Penerima, Masing-Masing Rp2,4 Juta

“Saya minta adik-adik mahasiswa bersabar, memperkuat dialog, dan tetap menjaga marwah gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pihak-pihak yang diduga membiayai pembuatan spanduk tersebut agar lebih bijak dalam menggunakan dana.

“Kalau memang ada yang punya kelebihan rezeki untuk mencetak spanduk sebanyak itu, lebih baik disalurkan untuk membantu fakir miskin di bulan Ramadan. Itu jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat,” kata Nezar. (r/isl)