MEDAN– Focus Group Discussion (FGD) Infokomdigi yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara di Aula MUI Sumatera Utara menghasilkan sejumlah kesimpulan strategis terkait pemanfaatan teknologi informasi dan media di era digital, Sabtu (21/2/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 42 peserta yang terdiri dari para pengurus Infokomdigi, sekretaris bidang/komisi, serta perwakilan lembaga di lingkungan MUI Sumut. FGD juga disiarkan secara langsung melalui streaming sebagai bentuk keterbukaan informasi dan dokumentasi kelembagaan.
Pada pembukaan kegiatan, Ketua Bidang Infokomdigi MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum menyampaikan pembagian tugas tim Infokomdigi secara lebih terstruktur.
Ia menekankan pentingnya fokus kerja pada beberapa sektor utama, yakni penguatan perpustakaan digital, optimalisasi media sosial, serta pengembangan pemberitaan yang menjangkau seluruh kabupaten/kota se-Sumatera Utara.
Menurutnya, setiap lini harus memiliki PIC atau penanggung jawab yang secara khusus meng-handle bidangnya masing-masing agar kerja-kerja keumatan dapat berjalan lebih efektif dan terukur.
“Ini merupakan upaya kita untuk lebih efisien dalam bekerja dan mengabdi kepada umat melalui MUI Sumut,” ujarnya.
FGD yang difasilitasi oleh Rustam, MA selaku Wakil Ketua Komisi Infokomdigi tersebut berlangsung dinamis. Seluruh pandangan, gagasan, kritik, dan solusi murni berasal dari peserta sebagai bagian dari proses diskusi bersama, tanpa pemaparan materi khusus dari fasilitator.
Sebelumnya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara menegaskan pentingnya kehati-hatian dan profesionalisme dalam menyampaikan informasi di era digital saat ini.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa di era Media 4.0, penyampaian informasi tidak lagi bisa dilakukan secara sembarangan. Menurutnya, terdapat sejumlah prinsip yang harus menjadi pedoman bagi Tim Infokomdigi.
“Pertama, informasi harus aktual, sesuai dengan kondisi terkini. Kedua, informasi tidak cukup hanya berupa kabar, tetapi perlu disertai analisis. Ketiga, dalam penyampaian informasi bisa saja terdapat unsur objektif maupun subjektif, sehingga perlu kebijaksanaan dalam mengelolanya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam media sosial, respons masyarakat pasti beragam.
“Di media sosial, kita harus siap menghadapi berbagai respons. Ada yang positif, ada pula yang negatif. Ini adalah konsekuensi dari keterbukaan informasi di era digital,” katanya.
Ketua Umum turut mengaitkan fenomena informasi di era digital dengan tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam ilmu hadis. Menurutnya, tidak semua berita dapat langsung dipercaya tanpa verifikasi.
“Dalam ilmu hadis dikenal istilah hadis shahih dan hadis munkar. Ini mengajarkan kepada kita bahwa suatu kabar bisa benar, tetapi bisa juga keliru. Karena itu, setiap informasi harus diverifikasi sebelum diterima dan disebarkan,” jelasnya.
Melalui FGD tersebut, Ketua Umum berharap Tim Infokomdigi MUI Sumut mampu menjawab tantangan dunia media dengan pendekatan yang bijak, profesional, dan bertanggung jawab, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar membawa maslahat bagi umat dan masyarakat luas.
Dalam diskusi ditegaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk media digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tidak bisa dihindari, ditolak, atau dicegah. Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan terintegrasi dalam berbagai aspek, termasuk pendidikan, dakwah, dan penyebaran informasi.
Karakteristik era ini bersifat human-cyber integration, yakni integrasi antara manusia dan sistem digital untuk meningkatkan efisiensi proses serta kualitas hasil.
FGD menyimpulkan bahwa pendekatan konvensional semata tidak lagi cukup. Lembaga dan para dai perlu beradaptasi serta berintegrasi dengan sistem baru, tanpa meninggalkan prinsip dan nilai-nilai dasar. Penggunaan AI dan platform digital harus diarahkan pada kemaslahatan, bukan ditolak secara apriori.
Adapun beberapa poin penting yang menjadi hasil dan kesimpulan FGD antara lain:
- Penguatan SDM
Sumber daya manusia menjadi faktor utama. Tim Infokomdigi perlu meningkatkan kapasitas dalam membuat konten yang: Berkualitas dari sisi substansi dan tampilan, Relevan dengan kondisi kekinian, Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, Tidak bersifat menakut-nakuti, tetapi persuasif dan mencerahkan, Mampu menjangkau generasi muda dengan pendekatan yang lebih komunikatif.
- Pemahaman Karakter Platform
Setiap platform digital memiliki karakteristik dan algoritma yang berbeda, seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Karena itu, diperlukan pemahaman teknis dan strategis agar konten yang dibuat dapat menjangkau audiens secara maksimal dan tidak tertinggal dalam persaingan informasi.
- Strategi dan Prinsip Dasar
Integrasi teknologi harus disertai dengan prinsip, norma, dan strategi yang jelas. Keikutsertaan dalam dunia digital harus membawa manfaat yang lebih besar bagi umat dan bangsa, bukan sekadar mengikuti tren.
- Dukungan Energi dan Pembiayaan
Pemanfaatan media digital memerlukan energi, komitmen, dan biaya. Kegiatan tertentu memang membutuhkan dukungan anggaran agar dapat berjalan optimal dan profesional.
- Penyusunan dan Publikasi Hasil FGD
Seluruh masukan peserta yang masih bersifat campuran—antara persoalan, kelemahan, dan solusi—akan dirangkum dan disusun secara lebih sistematis. Hasilnya akan dibagikan kepada peserta agar lebih mudah dipahami serta dijadikan panduan tindak lanjut.
FGD ini menegaskan komitmen Infokomdigi MUI Sumut untuk tidak hanya hadir di ruang digital, tetapi juga mampu menjadi aktor yang aktif, adaptif, dan strategis dalam membangun komunikasi publik yang edukatif, moderat, dan berdaya guna di era Media. (mui/isl)
