Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Sebelum Layar Ditutup (The Episode Before the Last)
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Kita sudah berjalan jauh.
Tentang taubat.
Tentang hati.
Tentang lelah.
Tentang rindu.
Tentang kematian.
Dan kini kita berada di satu titik sunyi:
Sebelum semuanya benar-benar ditutup.
Sebelum layar dimatikan.
Sebelum napas dihentikan.
Sebelum buku amal dikunci.
Ini bukan episode terakhir.
Tapi ini adalah episode sebelum yang terakhir.
Dan justru di sinilah kejujuran diuji.
—
Jika Ini Hari Terakhir Sebelum Akhir
Bayangkan Allah memberi kita satu hari lagi.
Satu hari untuk memperbaiki.
Satu hari untuk meminta maaf.
Satu hari untuk menangis.
Satu hari untuk bersih.
Apa yang akan kita lakukan?
Apakah kita masih akan menunda?
Masih akan scroll tanpa arah?
Masih akan memelihara dendam?
Masih akan menyimpan dosa rahasia?
Atau kita akan benar-benar pulang?
Allah berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Ayat itu bukan hanya untuk orang lain.
Ia bisa menjadi undangan untuk kita.
—
Mihrab Maya dan Kesempatan yang Tersisa
Di dunia ini, kita terbiasa dengan tombol “edit”.
Bisa memperbaiki tulisan.
Bisa menghapus pesan.
Bisa mengganti foto.
Tapi hidup tidak selalu memberi tombol edit.
Yang sudah terucap tidak selalu bisa ditarik.
Yang sudah melukai tidak selalu mudah disembuhkan.
Namun selama kita masih bernapas,
Allah masih memberi kesempatan.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari.”¹
Artinya, sebelum akhir benar-benar datang,
pintu itu masih terbuka.
—
Bersihkan yang Tersisa
Sebelum episode terakhir hidup kita tiba,
mari kita bersihkan yang tersisa:
Dosa yang belum kita akui.
Hati yang belum kita maafkan.
Hak orang lain yang belum kita kembalikan.
Shalat yang masih kita remehkan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan bahwa orang cerdas adalah yang mempersiapkan diri sebelum tiba hari perhitungan.²
Cerdas bukan yang banyak rencana dunia.
Tapi yang siap ketika dipanggil.
—
Jangan Tunggu Episode Terakhir
Sering kita merasa tersentuh…
lalu kembali biasa.
Menangis sesaat…
lalu lupa.
Tersadar sejenak…
lalu lalai lagi.
Episode sebelum terakhir ini
adalah panggilan terakhir sebelum penutup.
Kalau hari ini hati kita masih bergetar,
jangan tunda.
Kalau hari ini kita masih bisa sujud,
perpanjang.
Kalau hari ini kita masih bisa berkata,
“Ya Allah, ampuni aku,”
ucapkan dengan jujur.
—
Doa Sebelum Penutup
Dari mihrab maya ini,
sebelum kita sampai pada episode terakhir,
mari kita berdoa:
“Ya Allah… sebelum Engkau tutup kisah hidupku,
bersihkan hatiku.
Perbaiki niatku.
Ampuni dosaku.
Dan jadikan akhirku lebih indah daripada seluruh perjalananku.”
Karena mungkin hidup kita pun sedang berada
di episode sebelum yang terakhir.
Dan kita tidak pernah tahu
kapan layar itu benar-benar ditutup.
—
Episode berikutnya, insyaAllah:
Episode 30: Ketika Kita Pulang dengan Hati yang Diridhai
—

Catatan Kaki
1. Hadis riwayat Muslim tentang Allah menerima taubat siang dan malam.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang kesiapan menghadapi akhirat.
