Israel Siksa Balita Gaza, Tubuh Dibakar Rokok dan Kaki Ditusuk Paku

Internasional87 Dilihat

GAZA– Seorang balita di Gaza dilaporkan menjadi korban penyiksaan saat proses interogasi militer Israel terhadap ayahnya. Anak yang belum genap berusia dua tahun itu disebut mengalami kekerasan fisik di hadapan orang tuanya, dalam peristiwa yang memicu kemarahan luas di ruang publik.

Insiden ini bermula dari aktivitas sederhana. Osama Abu Nassar, seorang warga Gaza, keluar rumah bersama anaknya untuk membeli kebutuhan harian. Namun situasi berubah ketika tembakan terdengar di sekitar wilayah tempat tinggalnya di dekat perbatasan timur Al-Maghazi, Gaza tengah.

Sejumlah saksi mata menyebut, sebuah drone jenis quadcopter memaksa Abu Nassar menghentikan langkahnya. Ia diperintahkan meninggalkan anaknya di tanah dan bergerak menuju pos militer. Di lokasi itu, ia dilucuti pakaiannya dan diperiksa.

BACA JUGA :  Ukraina Larang Penggunaan Telegram, Singgung Keamanan Negara

Menurut kesaksian warga, anak tersebut kemudian ditahan oleh pasukan Israel, sementara sang ayah menjalani interogasi. Dalam proses itu, anaknya diduga disiksa di depan mata ayahnya sebagai bentuk tekanan agar memberikan pengakuan.

Keterangan ini diperkuat oleh pernyataan ibu korban, yang beredar dalam video di media sosial. Ia menyebut anaknya, Jawad, mengalami luka akibat puntung rokok yang dipadamkan di tubuhnya, serta luka tusukan di kaki akibat benda tajam. Temuan tersebut, menurutnya, juga tercatat dalam laporan medis.

BACA JUGA :  Komitmen Perangi Korupsi Lintas Negara, Kejaksaan Berpartisipasi dalam Forum PBB COSP ke-11 UNCAC Tahun 2025 di Qatar 

Balita itu akhirnya dibebaskan setelah sekitar 10 jam ditahan. Ia diserahkan kepada keluarga melalui Palang Merah di kawasan pasar Al-Maghazi. Sementara itu, ayahnya masih dilaporkan ditahan.

Peristiwa ini memicu reaksi luas di media sosial. Sejumlah aktivis menilai kasus tersebut sebagai bagian dari pola pelanggaran serius terhadap warga sipil di Gaza selama perang berlangsung.

Sebagian warganet menyebut praktik seperti ini bukan hal baru, dan menilai tindakan tersebut menunjukkan tidak adanya standar kemanusiaan dalam operasi militer yang dilakukan.

BACA JUGA :  Setahun Agresi Brutal Israel di Palestina Tewaskan 41.870 Orang

“Ini bukan sekadar pelanggaran, tapi kejahatan perang,” tulis salah satu pengguna media sosial, menyoroti penggunaan anak sebagai alat tekanan dalam interogasi, dikutip Al Jazeer, Rabu (25/3/2026).

Seruan juga muncul agar dilakukan penyelidikan internasional terhadap insiden tersebut. Sejumlah pihak menilai, tanpa akuntabilitas yang jelas, tindakan serupa berpotensi terus berulang.

Kasus ini kembali mengangkat pertanyaan tentang perlindungan warga sipil, terutama anak-anak, di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda. (sq/isl)