Jakarta– Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama Badan Pengelola (BP) BUMN tengah melakukan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola dan transparansi laporan keuangan perusahaan-perusahaan milik negara. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pembersihan dan penataan ulang kondisi keuangan BUMN yang selama ini dinilai menyimpan berbagai persoalan mendasar.
Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa transformasi menyeluruh di lingkungan BUMN menjadi langkah penting untuk menciptakan pengelolaan aset negara yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Menurutnya, berbagai permasalahan keuangan yang kini terungkap merupakan akumulasi dari lemahnya tata kelola perusahaan selama bertahun-tahun. Seluruh pos keuangan yang dianggap bermasalah saat ini sedang diaudit secara mendalam sebelum laporan keuangan konsolidasi Danantara dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026.
Dony mengungkapkan terdapat empat faktor utama yang menjadi penyebab memburuknya kondisi keuangan sejumlah BUMN. Faktor tersebut meliputi praktik rekayasa keuangan (financial engineering) untuk mempercantik kinerja perusahaan, penggelembungan nilai investasi (markup), kesalahan dan kelalaian manajemen dalam pengelolaan operasional, serta tindakan melawan hukum termasuk praktik korupsi.
Dampak dari berbagai persoalan tersebut terlihat pada tingginya nilai penurunan aset atau impairment yang tahun ini diperkirakan mencapai hampir Rp100 triliun. Nilai tersebut mencerminkan koreksi besar terhadap aset-aset yang selama ini dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi sebenarnya.
Selain itu, sektor dana pensiun BUMN juga menjadi perhatian serius. Danantara menemukan adanya potensi gagal bayar (potential default) dan berbagai permasalahan investasi pada sejumlah dana pensiun BUMN dengan nilai eksposur risiko yang diperkirakan mencapai sekitar Rp50 triliun.
Besarnya persoalan yang ditemukan membuat Danantara memilih menunda penyelesaian laporan keuangan final hingga seluruh proses audit, verifikasi aset, dan penyesuaian pencatatan keuangan selesai dilakukan secara menyeluruh.
Saat ini, fokus utama BP BUMN dan Danantara adalah memastikan seluruh aset negara tercatat sesuai kondisi riil di lapangan melalui audit yang komprehensif dan penerapan standar transparansi yang lebih ketat. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan fondasi keuangan yang sehat bagi BUMN sekaligus menghilangkan berbagai beban dan penyimpangan yang diwariskan dari masa lalu.
Melalui langkah pembersihan buku keuangan tersebut, pemerintah berharap Danantara dapat menjalankan perannya sebagai superholding BUMN dengan struktur keuangan yang lebih kuat, sehat, dan mampu memenuhi standar tata kelola kelas dunia. (bc)
