BENER MERIAH – Semangat gotong royong masyarakat kembali membuktikan kekuatannya. Setelah hampir satu tahun terputus akibat longsor yang dipicu bencana hidrometeorologi pada November tahun lalu, Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, akhirnya kembali dapat dilintasi.
Perbaikan akses yang merupakan jalur nasional sekaligus pintu gerbang menuju Dataran Tinggi Gayo itu dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Warga memilih bergotong royong karena merasa penanganan pemerintah terhadap akses vital tersebut berjalan sangat lambat.
“Jalan hari ini resmi kita buka. Proses pengaspalan dan perbaikan jembatan sudah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ujar Sahrial Abadi, inisiator perbaikan Jalan Enang-Enang, Kamis (2/7/2026).
Suasana peresmian berlangsung penuh haru. Di hadapan ratusan warga yang hadir, Sahrial tak mampu membendung air mata saat menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan jalan yang diperjuangkan bersama.
Prosesi pembukaan ditandai dengan pemotongan pita yang dipimpin tokoh ulama kharismatik Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau Abiya Jeunib. Lantunan doa dan gema shalawat mengiringi momen tersebut, sementara masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kaum ibu, tampak antusias menyaksikan peristiwa yang dianggap bersejarah bagi kawasan Gayo.
Dana Swadaya Capai Rp1 Miliar
Sahrial mengungkapkan, dana yang berhasil dihimpun masyarakat mencapai sekitar Rp1 miliar. Seluruh anggaran berasal dari donasi warga, tanpa menggunakan dana pemerintah, baik APBN, APBA maupun APBK.
“Hingga saat ini dana sebesar Rp526 juta sudah digunakan. Masih tersisa sekitar Rp555 juta yang nantinya akan dimanfaatkan untuk pembangunan dinding penahan jalan, tempat ibadah, dan fasilitas pendukung lainnya,” katanya.
Menurutnya, pembangunan Jalan dan Jembatan Enang-Enang bukan hanya soal membuka akses transportasi, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan semangat persatuan, kepedulian, dan gotong royong masyarakat Gayo.
Berawal dari Sewa Satu Ekskavator
Gerakan swadaya masyarakat dimulai pada 26 Mei 2026 dengan menyewa satu unit ekskavator menggunakan dana hasil patungan warga.
Saat itu, akses utama masih tertutup sehingga kendaraan harus dialihkan melalui jalur Simpang Lancang–Wih Porak. Namun jalur alternatif tersebut dinilai sempit, rusak, dan sering menimbulkan kemacetan panjang bagi kendaraan dari arah Takengon menuju Bireuen maupun sebaliknya.
Selain mengumpulkan uang untuk menyewa alat berat, masyarakat juga menyumbangkan bahan bakar minyak (BBM) guna mendukung operasional alat tersebut.
Polemik dengan BPJN Aceh
Di tengah proses perbaikan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh sempat menghentikan sementara penggunaan Jalan Enang-Enang pada 22 Juni 2026 dengan alasan faktor keselamatan karena kondisi jalan dinilai belum aman dilalui.
BPJN saat itu meminta masyarakat menggunakan jalur alternatif Wer Lah sambil menunggu peningkatan kualitas jalan dan pembangunan jembatan.
Namun keputusan tersebut memicu kritik keras dari berbagai elemen masyarakat. Gelombang protes bahkan disertai tuntutan agar Kepala BPJN Aceh dicopot dari jabatannya.
Tekanan publik akhirnya membuat BPJN Aceh kembali mendatangi lokasi beberapa hari kemudian. Kepala BPJN Aceh, Zulkarnain, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat.
“Sebenarnya yang saya sampaikan kemarin bukan menutup total Jalan Enang-Enang. Yang kami maksud hanya kendaraan dengan muatan berlebih yang tidak diperbolehkan melintas. Jadi jangan salah mengartikan. Saya meminta maaf,” ujarnya pada Kamis (25/6/2026).
Warga Sambut Sukacita
Kembalinya akses Jalan dan Jembatan Enang-Enang disambut penuh sukacita oleh masyarakat. Jalur tersebut merupakan urat nadi aktivitas ekonomi, perdagangan, hingga mobilitas warga menuju wilayah pesisir Aceh maupun Dataran Tinggi Gayo.
Halidin, seorang pedagang sayuran dan buah asal Kecamatan Wih Pesam, mengaku ikut terharu meski tidak hadir langsung saat peresmian.
“Alhamdulillah, saya yang hanya melihat dokumentasinya saja sampai meneteskan air mata melihat prosesi pemotongan pita oleh Pak Sahrial. Apalagi saudara-saudara yang hadir langsung di lokasi,” katanya.
Ia menilai dibukanya kembali Jalan Enang-Enang akan memangkas waktu tempuh distribusi hasil pertanian, termasuk sayuran dan alpukat yang dipasarkannya hingga ke Banda Aceh.
Halidin berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, penanganan infrastruktur pascabencana harus menjadi prioritas pemerintah agar masyarakat tidak terus menanggung dampak ekonomi akibat akses yang rusak.
“Pemerintah seharusnya malu. Cukuplah sekali terjadi peristiwa seperti ini. Penanganan bencana harus menjadi prioritas karena masyarakat sangat kesulitan berdagang maupun bertani ketika akses jalan rusak,” tuturnya. (bc/isl)
