MME: Laba Pertamina Rp55,2 Triliun Menunjukkan Ketahanan BUMN Energi di Tengah Gejolak Global

Bisnis25 Dilihat

Jakarta – Masyarakat Melek Energi (MME) menilai capaian laba PT Pertamina (Persero) sebesar Rp55,2 triliun pada Tahun Buku 2025 merupakan indikator penting yang menunjukkan ketahanan sektor energi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.

Koordinator MME sekaligus pengamat energi, Nugra Ferdino, mengatakan bahwa capaian tersebut perlu dilihat tidak hanya sebagai keberhasilan bisnis perusahaan, tetapi juga sebagai cerminan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas energi di tengah fluktuasi harga minyak dunia, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global.

“Di tengah kondisi pasar energi yang masih bergejolak, capaian laba Pertamina menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan adaptasi dan manajemen risiko yang cukup baik. Ini penting karena Pertamina bukan sekadar perusahaan komersial, tetapi juga instrumen strategis negara dalam menjaga ketahanan energi,” ujar Nugra, Rabu (8/7/2026).

BACA JUGA :  Bank Sumut Ajak BPD SI Adaptif Terhadap Perkembangan Industri Perbankan

Menurutnya, berbeda dengan perusahaan swasta murni, Pertamina memiliki tanggung jawab ganda, yakni menjaga kinerja usaha sekaligus memastikan pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat. Oleh karena itu, kinerja keuangan yang sehat menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menjalankan berbagai penugasan strategis pemerintah.

MME menilai capaian tersebut juga menunjukkan pentingnya keberadaan perusahaan energi nasional yang kuat di tengah meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Dengan kondisi produksi minyak domestik yang masih menghadapi tantangan, kemampuan Pertamina menjaga stabilitas bisnis menjadi faktor penting dalam mendukung keamanan pasokan energi nasional.

BACA JUGA :  RS Columbia Asia Gelar Doctors Fun Walk

Namun demikian, Nugra mengingatkan bahwa capaian laba tidak boleh menjadi tujuan akhir. Ke depan, Pertamina perlu terus memperkuat investasi pada sektor hulu migas guna meningkatkan produksi nasional, mempercepat hilirisasi energi, memperkuat infrastruktur kilang, serta mendorong pengembangan energi rendah karbon sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi Indonesia.

“Kinerja positif ini harus menjadi modal untuk memperkuat investasi dan kapasitas nasional di sektor energi. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menjaga keuntungan perusahaan, tetapi bagaimana meningkatkan kemandirian energi dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar global,” jelasnya.

BACA JUGA :  PT TIMAH Setor Rp1,6 Triliun ke Negara Sepanjang 2025, Naik 106,9 Persen

MME juga menilai bahwa tata kelola yang baik, transparansi, dan efisiensi harus tetap menjadi prioritas agar kinerja positif perusahaan dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi negara maupun masyarakat.

“Pertamina memiliki posisi yang sangat strategis dalam sistem energi nasional. Ketika perusahaan ini sehat secara finansial dan kuat secara operasional, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh ketahanan energi nasional secara keseluruhan,” tutup Nugra. (r/isl)