Sidikalang – “Aku mau jadi anak baik, tapi sering tidak bisa.” Kalimat sederhana itu disampaikan seorang anak dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Binluh) yang dilaksanakan Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi, Delima Anria Maena Banjarnahor, di Desa Berampu.
Bagi Delima, ada kejujuran di dalamnya tentang keinginan untuk menjadi lebih baik sekaligus kesadaran bahwa setiap orang masih berada dalam proses untuk bertumbuh. Dari perjumpaan bersama anak-anak dan kelompok lanjut usia, Delima menemukan bahwa pelayanan keagamaan bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang hadir, mendengarkan, dan menemani.
Pelayanan Binluh kepada anak-anak dilaksanakan setiap Senin pukul 15.00. Pada awalnya, dunia anak-anak tidak dapat dipisahkan dari aktivitas bermain. Mereka memang senang mendapatkan pengajaran rohani, tetapi bermain bersama teman juga menjadi bagian yang menarik bagi mereka. Bahkan, pada tahap awal, kegiatan Binluh menjadi salah satu alasan bagi anak-anak untuk meminta izin kepada orang tua agar dapat keluar rumah.
Seiring waktu, keterlibatan mereka mulai menunjukkan perubahan. Setelah pelayanan berlangsung selama satu semester, anak-anak yang telah mengetahui jadwal kegiatan mulai datang sekitar setengah jam lebih awal, bahkan lebih. Mereka datang dan menunggu pembina sebelum kegiatan dimulai.
Perubahan sederhana itu menjadi pengalaman yang membekas bagi Delima. Ia tidak menyimpulkan bahwa perubahan tersebut semata-mata disebabkan oleh kegiatan Binluh. Namun, pengalaman itu menunjukkan bahwa perjumpaan yang berlangsung secara konsisten dapat membuat sebuah kegiatan perlahan memiliki arti bagi anak-anak.
Salah satu materi yang diberikan kepada anak-anak adalah “Aku Ciptaan Tuhan yang Berharga”. Materi tersebut kemudian berjumpa dengan pengalaman nyata seorang anak yang pernah mendapat julukan “si hitam”. Anak tersebut menghubungkan pengalaman diejek dengan materi tentang nilai dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang berharga.
Ia mengatakan, jika masih ada orang yang mengejeknya, mungkin orang tersebut belum merasa dirinya istimewa. Respons itu menunjukkan bahwa materi pembinaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi mulai digunakan anak untuk memahami pengalaman yang ia alami dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan lain, seorang anak mengatakan, “Aku mau jadi anak baik, tapi sering tidak bisa.” Kalimat tersebut memperlihatkan bahwa anak memiliki keinginan untuk menjadi baik sekaligus menyadari keterbatasannya. Bagi Delima, hal itu menjadi pengingat bahwa anak tidak harus langsung menjadi sempurna. Mereka sedang bertumbuh dan membutuhkan pendampingan.
Pengalaman berbeda ditemui Delima ketika mendampingi kelompok lanjut usia. Kegiatan Binluh bagi kelompok lansia dilaksanakan setiap Kamis pada minggu ketiga setiap bulan. Sejak awal, para peserta menunjukkan antusiasme. Mereka datang tepat waktu, beberapa bahkan telah bersiap sebelum kegiatan dimulai, aktif memberikan respons, serta bersedia berbagi cerita selama pembinaan.
Dalam salah satu pembinaan, Delima menyampaikan materi “Masa Tua dalam Tuhan: Belajar dari Keluarga Abraham” dengan pembahasan Yesaya 46:4. Ayat tersebut berbicara mengenai penyertaan Tuhan sampai masa tua dan masa putih rambut.
Seorang peserta kemudian mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat membayangkan dirinya “digendong Tuhan”. Bagi peserta tersebut, gambaran itu memberikan rasa aman dan keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertai dirinya di tengah berbagai perubahan kehidupan.
Peserta lainnya mengungkapkan rasa lega karena di tengah semua yang berubah, terdapat Tuhan yang dapat menjadi sandaran karena Tuhan tidak berubah. Bagi Delima, respons tersebut menunjukkan bahwa pesan iman menjadi semakin bermakna ketika berjumpa dengan pengalaman hidup seseorang.
Namun, salah satu pengalaman yang paling membekas justru muncul ketika pembicaraan beralih kepada hubungan dengan anak dan cucu. Dua orang lansia menyampaikan bahwa mereka tidak terlalu berani menegur cucu sendiri. Mereka juga merasa tidak terlalu berani menyinggung anak maupun cucu. Saat menyampaikan hal tersebut, mata mereka tampak memerah.
Tidak ada cerita panjang dalam percakapan itu. Namun, dari pengalaman sederhana tersebut terlihat bahwa hubungan antargenerasi tidak selalu mudah. Ada kasih dan perhatian, tetapi terkadang juga ada keraguan untuk berbicara secara terbuka karena takut melukai perasaan atau mengganggu hubungan.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan pemahaman Delima bahwa pelayanan seorang penyuluh tidak selalu membutuhkan jawaban panjang. Ada kalanya, pelayanan yang paling berarti adalah menyediakan ruang untuk mendengarkan.
Penyuluh hadir untuk menemani mereka memahami pengalaman hidup dalam terang iman. Karena itu, mendengarkan menjadi bagian penting dari pelayanan.
Dari pengalaman mendampingi dua kelompok usia tersebut, muncul pula sebuah kemungkinan untuk mempertemukan kedua generasi dalam ruang pelayanan. Saat ini, kegiatan Binluh anak-anak dan lansia masih berlangsung secara terpisah. Anak-anak belum secara khusus mendengar kesaksian kelompok lansia, begitu pula kelompok lansia belum berinteraksi langsung dengan anak-anak dalam kegiatan Binluh yang dilaksanakan Delima.
Padahal, kedua generasi memiliki sesuatu yang dapat dibagikan. Kelompok lansia memiliki pengalaman perjalanan hidup, keluarga, pergumulan, serta pengalaman iman. Sementara anak-anak sedang berada dalam proses membentuk identitas, memahami dirinya, dan belajar mendengar Tuhan.
Jika dipertemukan dalam ruang yang tepat, lansia dapat menjadi saksi perjalanan iman, sementara anak-anak dapat menjadi pendengar sekaligus penerus cerita. Generasi tua membawa pengalaman, sedangkan generasi muda membawa pertanyaan dan harapan tentang masa depan.
Perjumpaan tersebut tidak harus dimulai melalui program besar. Bisa melalui kegiatan sederhana, seperti seorang lansia membagikan pengalaman imannya kepada anak-anak, anak-anak menceritakan apa yang mereka pelajari dalam Binluh, berdoa bersama, atau melakukan kegiatan sosial yang memungkinkan keduanya saling berinteraksi.
Bagi Delima, tujuan akhirnya bukan sekadar mempertemukan dua kelompok usia. Lebih dari itu, perjumpaan tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang bagi kedua generasi untuk saling mengenal, menerima, dan belajar.
Pengalaman di Desa Berampu juga memperlihatkan bahwa penyuluh agama memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi keagamaan. Penyuluh dapat hadir sebagai pendengar, pendamping, fasilitator, sekaligus pembangun jembatan di tengah masyarakat.
Sebagai pendengar, penyuluh memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman. Sebagai pendamping, penyuluh hadir secara konsisten dalam proses pertumbuhan. Sebagai fasilitator, penyuluh membantu masyarakat menghubungkan nilai-nilai iman dengan kehidupan sehari-hari. Sementara sebagai pembangun jembatan, penyuluh dapat membuka ruang agar generasi yang berbeda saling mengenal dan belajar.
Bagi Delima, pengalaman melayani anak-anak dan lanjut usia di Desa Berampu menjadi pengingat bahwa pelayanan yang menyentuh tidak selalu ditandai oleh sesuatu yang besar. Terkadang, ia hadir dalam hal-hal sederhana: seorang anak yang datang lebih awal dan menunggu pembina, seorang anak yang mulai memahami bahwa dirinya berharga, atau seorang lansia yang menemukan ketenangan dalam keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertainya.
Pada akhirnya, pelayanan bukan hanya tentang menyampaikan apa yang diketahui. Pelayanan adalah tentang hadir bagi mereka yang membutuhkan ruang untuk bertumbuh, dikuatkan, dan didengarkan.
Dari Desa Berampu, dua generasi mengajarkan satu hal sederhana: anak-anak membutuhkan pendampingan untuk menemukan jati dirinya, sementara para lanjut usia membutuhkan ruang untuk berbagi perjalanan hidup dan iman. Di antara keduanya, penyuluh hadir untuk membangun jembatan agar pengalaman dan nilai-nilai iman dapat terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. (r/isl)
