JAKARTA– Desa kembali didorong menjadi mesin pertumbuhan. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan, Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi jurus utama menggerakkan ekonomi rakyat dari bawah.
Pernyataan itu disampaikan Zulkifli dalam forum Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, dikutip Rakyat Merdeka, Jumat (13/2/2026).
Zulhas—sapaan Zulkifli Hasan membeberkan, dari total 83.297 desa dan kelurahan di Indonesia, Pemerintah menargetkan sekitar 80 ribu Kopdes Merah Putih berdiri. Dari jumlah tersebut, 30.008 koperasi ditargetkan selesai dibangun dan mulai beroperasi tahun ini.
“Kalau di desa mencari tanah 1.000 meter persegi relatif mudah, tetapi di kota sulit. Karena itu, koperasi di perkotaan akan disesuaikan dengan ukuran dan desain sesuai kondisi setempat,” ujar Zulhas.
Menurutnya, Kopdes ini akan menjadi pengumpul (off taker) hasil produksi rakyat. Mulai dari gabah, jagung, hingga komoditas lain yang selama ini kerap dijual di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Penampungan dilakukan melalui kerja sama dengan Bulog.
“Sehingga rakyat di desa punya kepercayaan bahwa hasil produksinya ada yang membeli. Ini memotong rantai pasok yang panjang,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Kopdes juga disiapkan menjadi pemasok bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG. Dalam tata kelolanya, hanya pelaku usaha desa seperti BUMDes, koperasi desa, dan UMKM setempat yang diperbolehkan menjadi pemasok. Artinya, perputaran uang tetap beredar di desa.
Dari sisi ketenagakerjaan, setiap Kopdes diproyeksikan menyerap sekitar 20 tenaga kerja langsung. Jika target 80 ribu koperasi terealisasi, maka potensi serapan tenaga kerja bisa mencapai 1,6 juta orang. Belum termasuk petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM yang menjadi mitra tidak langsung.
“Koperasi Desa Merah Putih ini akan memotong rantai pasok dari produsen langsung ke desa. Kita harapkan tumbuh pusat-pusat ekonomi baru,” harap Zulhas.
Dia menegaskan, Kopdes dan MBG bukan sekadar program sosial. Melainkan strategi besar membangun ekosistem pangan dan ekonomi berbasis desa yang berkelanjutan.
“Desa harus jadi pusat pertumbuhan. Kalau desa kuat, ekonomi nasional ikut kokoh,” pungkasnya. (rm/isl)
