JAKARTA– Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas pangan pokok strategis. Artinya, terjadi surplus produksi dibanding kebutuhan konsumsi nasional. Capaian ini, menurut Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menjadi momentum yang patut disyukuri.
“Di saat dunia krisis pangan, Indonesia surplus. Kita sekarang sudah swasembada sembilan komoditas,” kata Amran, saat menghadiri Gerakan Pangan Murah (GPM) Nasional, di Jakarta, Jumat (13/2/2026) dikutip Rakyat Merdeka.
Kesembilan komoditas tersebut yakni beras, gula konsumsi, cabe besar, cabe rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional hingga akhir April 2026, total ketersediaan beras tercatat mencapai 27,55 juta ton dengan kebutuhan sebesar 10,30 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus 17,24 juta ton.
Sementara, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog per Februari 2026 tercatat 3,3 juta ton. Menurut perhitungan Amran, dalam tiga bulan ke depan, stok beras Bulog bisa menyentuh 6 juta ton.
“Kemungkinan tiga bulan ke depan stok CBP di Bulog 6 juta ton,” ujar Amran.
Di akhir Februari ini stok beras yang disimpan Bulog bisa bertambah jadi 3,94 juta ton. Padahal, kapasitas gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia hanya 3 juta ton.
Saat ini, Bulog sudah menyewa tambahan gudang dengan kapasitas 1 juta ton. Bulog pun perlu menyewa lebih banyak gudang lagi.
“Bulog sudah sewa gudang 1 juta ton kapasitas, tapi produksi beras kita meningkat tajam. Ini mungkin butuh dana tambahan (untuk menyewa gudang lagi),” ucap Amran.
Untuk komoditas gula konsumsi, juga diperkirakan surplus 595 ribu ton hingga April mendatang. Surplus komoditas lainnya tercatat pada cabe besar 74 ribu ton, cabe rawit 105 ribu ton, jagung 4,85 juta ton, serta minyak goreng 3,5 juta ton. Untuk daging ayam diproyeksikan surplus 728 ribu ton dan telur ayam 349 ribu ton. Sementara, bawang merah mencatat surplus 57 ribu ton.
Kondisi surplus tersebut bukan hanya memperkuat ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga membuka ruang ekspor pada sejumlah komoditas. Sepanjang 2025, ekspor bawang merah tercatat 1,56 ribu ton dan jagung sebesar 7,49 ribu ton.
“Pemerintah akan menggenjot produksi untuk komoditas yang belum swasembada, yakni kedelai, bawang putih, dan sapi,” kata Amran, yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.
Dengan posisi stok yang kuat, Amran menekankan, kondisi surplus harus tercermin pada stabilitas harga di tingkat konsumen. Ini harus dijaga dengan pengelolaan distribusi. Amran menekankan, tak boleh ada pihak yang memanfaatkan momentum untuk untuk mencari keuntungan berlebih.
“Alhamdulillah menghadapi bulan suci Ramadan, angka-angka ini surplus. Tolong yang impor, jangan permainkan keadaan. Pesan Presiden Prabowo jelas, jaga rakyat. Jaga harga pangan,” tegasnya.
Sementara itu, Perum Bulog ikut memastikan, ketersediaan CBP dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) 2026.
Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal menyatakan, kesiapan stok ini langkah antisipatif meredam fluktuasi harga yang biasanya terjadi di periode HBKN.
“Kami pastikan, dalam kondisi aman dan cukup untuk menghadapi momentum HBKN 2026,” ujar Andi Afdal dalam keterangan resminya.
Saat ini, Bulog menguasai stok beras nasional yang angkanya fantastis. Stok beras mencapai 3,4 juta ton. Cakupan wilayah stok beras juga menyebar di seluruh kantor wilayah dan cabang Bulog di 38 provinsi dan 497 kabupaten/kota. Komoditas pendukung seperti minyak goreng dan gula pasir, juga mencukupi.
Bulog juga terus memperkuat sinergi dengan Bapanas, Kementan, dan Pemerintah Daerah untuk mendekatkan akses pangan murah kepada masyarakat melalui berbagai intervensi pasar. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional yang dikoordinasikan Bapanas.
Kegiatan ini dilaksanakan masif di 1.218 lokasi di seluruh Indonesia. Melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog juga terus menggelontorkan komoditas pangan berkualitas dengan harga di bawah pasar.
“Kami ingin masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dengan tenang dan terjangkau,” tegas Andi. (rm/isl)
