JAKARTA – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir kuartal I-2026, meskipun harga minyak dunia tengah berfluktuasi akibat dinamika geopolitik global.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung dalam konferensi pers pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM Periode Hari Raya Idul Fitri 2026, Kamis (12/3/2026).
Yuliot menjelaskan, pemerintah masih memantau pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi salah satu acuan dalam penentuan kebijakan harga BBM.
“Sepanjang harga rata-rata ICP masih berada dalam kisaran yang diperhitungkan pemerintah, maka tidak akan ada kenaikan harga Pertalite,” ujarnya.
Menurutnya, harga minyak global dalam beberapa hari terakhir mengalami pergerakan cukup tajam. Harga sempat menyentuh sekitar 116 dolar AS per barel, kemudian turun hingga kisaran 80 dolar AS, sebelum kembali naik mendekati 90 dolar AS per barel.
Karena itu, pemerintah akan melihat rata-rata pergerakan harga minyak ke depan sebelum mengambil keputusan terkait kebijakan lanjutan.
Di tengah dinamika harga energi global, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, salah satunya dengan mempercepat implementasi program campuran biodiesel seperti B40 hingga B50.
Yuliot mengatakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah diminta Presiden Prabowo Subianto menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi keterbatasan pasokan energi.
“Jika terjadi kondisi keterbatasan, justru kita akan mempercepat implementasi B50,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengembangkan bahan bakar berbasis etanol. Program tersebut telah diuji coba dengan campuran etanol sebesar 5 persen dan direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai E20 pada 2028.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM nasional dalam kondisi aman. Ia meminta masyarakat tidak khawatir atau melakukan pembelian berlebihan.
Menurut Bahlil, stok BBM yang tersimpan di tangki nasional saat ini setara sekitar 23 hari kebutuhan. Namun angka tersebut hanya menggambarkan cadangan yang berada di tangki pada satu waktu karena pasokan terus masuk setiap hari.
“Produksi berjalan terus dan pasokan juga terus masuk. Jadi masyarakat tidak perlu melakukan panic buying,” ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup dalam APBN untuk menahan dampak kenaikan harga minyak dunia.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk menaikkan harga BBM,” katanya.
Pemerintah, kata dia, akan terus memantau perkembangan harga minyak global dan melakukan evaluasi dalam beberapa waktu ke depan sebelum menentukan langkah kebijakan selanjutnya. (isl)