Pertamina Cari Sumber Impor Alternatif di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Bisnis33 Dilihat

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mulai mencari sumber impor energi alternatif untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi global di kawasan Selat Hormuz yang dipicu meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai strategi menjaga ketahanan stok energi nasional jika jalur distribusi utama terganggu.

“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon di Jakarta, Kamis. (12/3/2026)

Ia menjelaskan, selama ini pasokan energi Indonesia tidak hanya berasal dari kawasan Timur Tengah. Pertamina juga telah melakukan diversifikasi sumber impor dari sejumlah wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA :  Tim Pemantau Harga Sumut : Bawang Putih Kini Terlalu Mahal

Kawasan Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Ketegangan di wilayah tersebut sempat memicu gangguan pelayaran yang berpotensi memengaruhi distribusi minyak mentah.

Pemerintah sebelumnya mencatat sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia melewati jalur Selat Hormuz.

Langkah diversifikasi impor ini juga dilakukan setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride yang dikelola oleh NYK Line serta kapal Gamsunoro yang berada di bawah pengelolaan Synergy Ship Management.

BACA JUGA :  Bulog: Stok Beras dan Gula Sumut Aman Hingga Ramadhan

Berdasarkan laporan PIS pada Senin (2/3), Pertamina Pride telah menyelesaikan proses pemuatan minyak dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Sementara itu, Gamsunoro sedang melakukan proses pemuatan di Khor al Zubair, Irak.

Adapun dua kapal lainnya milik PIS, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, dilaporkan berada di luar kawasan perairan Timur Tengah.

Simon menegaskan, keselamatan awak kapal dan keamanan kargo menjadi prioritas utama perusahaan. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, untuk memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut.

“Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik,” katanya.

BACA JUGA :  Gubsu Bobby Nasution Luncurkan PASADA, Ajak Kepala Daerah se-Sumatera Kolaborasi Bangun Ekonomi Berbasis Data

Saat ini PIS mengoperasikan sekitar 345 kapal untuk mendukung distribusi energi. Dari jumlah tersebut, 266 kapal melayani pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal mengangkut minyak mentah, 45 kapal untuk distribusi LPG, serta tujuh kapal yang mendukung pengangkutan petrokimia sekaligus berfungsi sebagai *floating storage*.

Selain mengamankan pasokan melalui impor, Pertamina juga terus mendorong peningkatan produksi energi domestik, salah satunya melalui optimalisasi produksi di Blok Cepu.

“Kita punya kerja sama di Blok Cepu, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat,” ujar Simon. (ant/isl)