MEDAN – Kebijakan Gubernur Provinsi Sumatera Utara yang rencananya akan menerapkan sistem sekolah lima hari untuk SMA dan SMK di seluruh Sumatera Utara, pada tahun ajaran baru 2026- 2027 direspon Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pendidikan (FKMPP).
Menurut Ketua DPP FKMPP, Bachtiar, kebijakan tersebut perlu ada kajian mendalam dari berbagai pihak, termasuk orang tua. Sehingga harus ditinjau ulang guna memastikan bahwa kebijakan lima hari sekolah, benar-benar efektif dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi siswa di kemudian hari.
“Gubernur Sumut harus melakukan kajian lebih mendalam dari akademisi, praktisi, legislatif, dan termasuk siswa, guru, dan orang tua, atas pengurangan jam belajar siswa SMA sederajat dari enam menjadi lima hari seminggu,” kata Bachtiar, Rabu (4/6/2025).
Menurutnya, pengurangan waktu belajar siswa SMA/SMK untuk menekan angka tawuran dan kenakalan remaja, khususnya tawuran -seperti yang disampaikan Gubernur Bobby Nasution-, bukanlah jaminan hal itu tidak akan terjadi.
Namun, malah sebaliknya. Penghematan waktu sekolah dari libur satu hari menjadi dua hari dikhawatirkan membuat para remaja itu semakin bebas berkeliaran, berkumpul bersama teman sebayanya menikmati waktu lebih panjang.
“Apa yang diharapkan pak Bobby untuk meningkatkan waktu kebersamaan antara anak dan orang tua, serta mempererat hubungan keluarga sebagai benteng utama pendidikan karakter anak sangatlah baik, tetapi bukan pula dengan mengurangi jam sekolahnya. Lagian, semua kita tahu bahwa anak-anak Gen-Z ini merupakan generasi instan, susah diatur apalagi ditekan. Jadi selama dua hari tak sekolah sudah jelas merepotkan orang tua karena sebagai anaknya ada yang tak pulang, dan ada juga yang pergi pagi pulang pagi,” imbuhnya.
Untuk itu, FKMPP mengusulkan kepada Gubernur Sumut, agar tidak mengurangi jam siswa ke sekolah, melainkan diubah, lima hari belajar reguler dan 1 hari untuk memfokuskan kegiatan ekstrakulikuler siswa di sekolah.
“Atau dengan kata lain, mengasah bakat mereka dari berbagai bidang. Seperti olah raga atau mengasah bakat siswa dalam kesenian, keterampilan, atau memperdalam ilmu teknologi dan digitalisasi sesuai dengan kemajuan jaman. Pemerintah tinggal memfasilitasi saja sekolah-sekolah beserta SDM nya seperti guru yang memang terbaik di bidangnya masing masing. Dengan begitu siswa tetap melakukan hal positif diawasi oleh gurunya dan orang tua tak perlu was-was menjaga anaknya,” tutupnya.
Seperti diketahui, Bobby Nasution berencana mengusulkan kebijakan pengurangan hari sekolah, seperti meliburkan siswa di hari Sabtu, sebagai salah satu solusi menekan fenomena tawuran antar pelajar.
“Kami mengusulkan terhadap pembinaan ini dari sisi jam belajar disekolah, kita ingin seluruh sekolah yang ada di Sumut, kalau bisa setiap hari sabtu itu libur, agar para remaja punya waktu yang lebih bersama keluarga. Hal tersebut sudah kami kaji apa yang dibuat Kang Dedi (Gubernur Jabar) kan kita pelajari dulu,” kata Bobby dikutip Selasa, 6 Mei 2025.(bj)