MEDAN – Dalam kurun waktu sekitar 10 bulan menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Utara, Dr. Harli Siregar, S.H., M.Hum mencatatkan berbagai capaian kinerja dan prestasi gemilang.
Salah satu pencapaian paling menonjol adalah keberhasilan mengembalikan kerugian keuangan negara hingga Rp435 miliar lebih, sebagai bagian dari komitmen pemberantasan tindak pidana korupsi.
Berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI Nomor 488 Tahun 2026 yang ditandatangani Jaksa Agung Burhanuddin, Harli Siregar kini dipromosikan sebagai Inspektur III pada Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung. Posisi Kajati Sumut selanjutnya diisi oleh Muhibuddin, yang sebelumnya menjabat Kajati Sumatera Barat.
Sejak dilantik pada 16 Juli 2025, Harli dikenal menghadirkan berbagai terobosan dan inovasi yang berdampak signifikan.
Selama masa kepemimpinannya, Kejati Sumut berhasil meraih sejumlah penghargaan dan capaian, di antaranya:
Di bidang intelijen, Kejati Sumut mengamankan 66 proyek strategis nasional dengan total nilai mencapai sekitar Rp930 miliar dan USD 163 juta.
Harli juga menerima penghargaan sebagai tokoh pendorong keterbukaan informasi lembaga penegak hukum dalam ajang Detik Award 2025.
Dalam pendekatan keadilan restoratif, Kejati Sumut mencatat:
Capaian signifikan lainnya meliputi:
Selain itu, pada tahun 2026 Kejati Sumut juga berhasil menyelamatkan tambahan kerugian negara sebesar Rp13 miliar dari kasus pembangunan Water Front City Panguruan dan kawasan Tele, Samosir.
Langkah tegas juga ditunjukkan melalui penggeledahan kantor BPN Provinsi Sumut dan Kota Medan terkait dugaan korupsi pengadaan lahan proyek jalan tol Medan–Binjai.
Sebelum menjabat Kajati Sumut, Harli Siregar pernah menduduki berbagai posisi strategis, antara lain:
Ia juga pernah mengikuti seleksi calon pimpinan KPK periode 2024–2029.
Harli dikenal sebagai figur tegas dalam pemberantasan korupsi serta mendorong transparansi publik. Salah satu langkah inovatifnya adalah menampilkan langsung barang bukti uang hasil sitaan kepada publik, sebagai bentuk akuntabilitas.
Selain itu, ia aktif membangun komunikasi dengan media dan kalangan akademisi melalui berbagai forum diskusi, pelatihan, dan kunjungan edukatif. (bc)