JAKARTA- Institut Baitul Maqdis, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Jakarta, menyampaikan ucapan selamat kepada Hamas dan seluruh rakyat Palestina atas keberhasilan tercapainya perjanjian gencatan senjata yang penting, yang merupakan langkah penting menuju perdamaian dan stabilitas bagi rakyat Palestina.
“Keberhasilan ini menunjukkan ketangguhan dan kekuatan luar biasa rakyat Gaza dalam menghadapi kebrutalan Zionisme untuk mengakhiri kekerasan yang berkepanjangan,” ujar KH. Fahmi Salim, Lc., MA. Founder & Direktur BMI didampingi Direktur Eksekutif BMI Pizaro Gozali, dalam keterangannya, Kamis (16/1/2025)
Institut Baitul Maqdis kemudian menyampaikan penghormatan tertinggi atas keberanian, ketabahan, dan pengorbanan rakyat Palestina dalam perjuangan mereka yang terus berlanjut untuk mempertahankan hak dan martabat mereka melawan kolonialisme Zionis.
Semoga gencatan senjata ini menjadi langkah awal menuju solusi yang lebih permanen dan adil, serta membuka jalan menuju kemerdekaan dan kedaulatan sejati rakyat Palestina di masa depan.
“Kami mengenang semua syuhada yang menyuburkan tanah Gaza dengan darah mereka yang diberkahi dan berdoa kepada Allah agar perjanjian gencatan senjata ini berhasil,” lanjutnya.
Institut Baitul Maqdis akan terus mendukung perjuangan Palestina dan tetap berkomitmen untuk secara aktif memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina di panggung internasional.
Sebelumnya diketahui, Mediator Qatar mengatakan Rabu bahwa Israel dan Hamas telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata di Gaza mulai Minggu. Pertukaran sandera dan tahanan setelah 15 bulan perang akan dilakukan.
Sebanyak 33 sandera Israel akan dibebaskan pada tahap pertama perjanjian. Perjanjian gencatan senjata itu bahkan disebut bisa menjadi perdamaian permanen.
“Kedua pihak yang bertikai di Jalur Gaza telah mencapai kesepakatan tentang tahanan dan pertukaran sandera, dan (para mediator) mengumumkan gencatan senjata dengan harapan mencapai gencatan senjata permanen antara kedua belah pihak,” kata kata Perdana Menteri (PM) Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, dikutip AFP, Kamis (16/1/2025). (isl)
