Tanker Minyak Jepang Berhasil Lintasi Selat Hormuz, Jepang Tetap Waspadai Situasi Keamanan

Internasional17 Dilihat

Tokyo – Seluruh kapal tanker minyak mentah yang memiliki keterkaitan dengan Jepang dan sebelumnya berada di kawasan Teluk Persia dilaporkan telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Meski demikian, Pemerintah Jepang menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut karena ketegangan geopolitik di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Informasi tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui perkembangan operasional pelayaran, Selasa (14/7/2026). Menurutnya, seluruh kapal tanker yang sedang berlayar keluar dari Teluk Persia telah berhasil melewati Selat Hormuz tanpa insiden.

Namun, masih terdapat empat kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan Jepang dan hingga kini tetap berada di kawasan Teluk Persia sambil menunggu perkembangan situasi keamanan sebelum melanjutkan pelayaran.

Data pelacakan pelayaran internasional menunjukkan sejumlah kapal tanker, termasuk yang dioperasikan perusahaan pelayaran Jepang, telah bergerak meninggalkan kawasan Selat Hormuz. Beberapa di antaranya diketahui sedang berlayar menuju Jepang guna memenuhi kebutuhan pasokan energi nasional.

BACA JUGA :  Dalam Rangka Penguatan Kerja Sama China-ASEAN Prosecutors, Kejagung RI Terima Kunjungan Delegasi Kejaksaan Republik Rakyat Tiongkok

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam dari kawasan Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan berbagai wilayah lainnya melewati selat tersebut, sehingga stabilitas kawasan memiliki dampak besar terhadap perdagangan energi global.

Perhatian dunia terhadap Selat Hormuz kembali meningkat setelah memanasnya situasi geopolitik dalam beberapa hari terakhir. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz, memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dunia.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan melanjutkan langkah-langkah pengamanan jalur pelayaran tersebut. Trump juga mengemukakan gagasan penerapan pungutan sebesar 20 persen terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari biaya pengamanan jalur perdagangan internasional.

BACA JUGA :  Survei: Mayoritas Warga AS Dukung Palestina Jadi Negara Merdeka

Pernyataan tersebut memicu beragam respons dari berbagai negara mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi stabilitas pasokan energi dunia.

Pemerintah Jepang menegaskan bahwa keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas utama. Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, Yasushi Kaneko, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi secara intensif.

“Pemulihan navigasi yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz menjadi prioritas utama kami dan situasinya terus kami pantau dengan saksama,” ujar Kaneko.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang menjelaskan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap kapal berbendera Jepang, tetapi juga kapal berbendera asing yang membawa awak berkewarganegaraan Jepang, dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Jepang, maupun kapal logistik yang berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi bagi perekonomian nasional.

BACA JUGA :  Tekan Angka Pengangguran, Pemprov Sumut Buka Kesempatan Magang ke Jepang

Pengamat maritim menilai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik internasional, mendorong kenaikan harga minyak mentah, serta memicu tekanan inflasi di berbagai negara yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

Meski sejumlah tanker Jepang telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman, perkembangan situasi keamanan di kawasan diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama komunitas internasional dalam beberapa waktu mendatang. (bc/isl)