Oleh : Winda Soraya, S.E., M.Si
Ketua Bidang Perempuan DPW Partai Gelora Indonesia Sumatera Utara
Child Grooming adalah salah satu bentuk kejahatan terhadap anak yang semakin marak terjadi di era digital. Seiring meningkatnya penggunan internet, media sosial dan game daring oleh anak-anak serta remaja, resiko terjadinya child grooming pun kian tinggi. Fenomena ini harus menjadi perhatian serius karena sering berlangsung secara tersembunyi dan sulit dikenali sejak awal.
Child Grooming merupakan proses dimana seseorang membangun hubungan, kepercayaan dan ikatan emsional dengan seorang anak (atau terkadang keluarga mereka) dengan tujuan akhir untuk mengekplotasi atau melecehkan anak tersebut.
Pelaku grooming tidak selalu orang asing, mereka bisa saja orang yang dikenal baik, seperti guru, pelatih, anggota keluarga atau teman yang ditemui secara daring (online).
Sebelum membahas tetang child grooming lebih lanjut dan bagaimana caranya menekan angka korban serta saran kepada orang tua.
Maka dari itu kita harus tahu terlebih dahulu tahapan atau proses yang dilakukan predator anak yang biasanya dilakukan secara bertahap dan sangat halus sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang di manipulasi.
- Memilih Target : Pelaku mencari anak yang terlihat rentan, kesepian, atau kurang perhatia.
- Membangun Kepercayaan : Pelaku berpura-pura menjadi sosok yang sangat baik pendengar yang hebat atau pemberi hadiah.
- Isolasi : Pelaku mecoba menjauhkan anak dari orang tua atau teman-temannya agar mereka hanya bergantung pada si pelaku.
- Normalisasi : Pelaku mulai mengenalkan topik seksual secara perlahan untuk melihat reaksi anak, seringkali membungkusnya sebagai “rahasia spesial” atau tanda cinta.
- Eksploitasi : Tahap dimana Pelecehan fisik atau seksual terjadi.
Kemudian tanda tanda yang perlu diwaspadai untuk mengenali perubahan perilaku pada anak atau perilaku mecurigakan dari orang dewasa yaitu :
- Pemberian Hadiah Berlebih : Orang dewasa yang memberikan uang atau barang tanpa alasan yang jelas kepada anak.
- Kerahasiaan : Anak mulai memiliki “rahasia” dengan orang dewasa tertentu dan menjadi tertutup.
- Perubahan Emosional : Anak menjadi lebih cemas, menarik diri, atau menunjukkan pengetahuan tentang seks yang tidak sesuai usianya.
- Waktu Sendirian : Orang dewasa yang terus menerus mencari alasan untuk hanya berdua saja dengan anak tersebut.
Sedangkan di era Digital Grooming sering terjadi melalui media sosial atau game online. Pelaku menggunakan identitas palsu (sering kali berpura-pura menjadi seumuran) untuk mendekati anak-anak melalui kolom komentar atau pesan pribadi (DM).
Pencegahan child grooming untuk menekan angka kasus tersebut membutuhkan kerjasama dan peran aktif dari berbagai lapisan, mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, hingga kebijakan publik. Kuncinya bukan hanya pada pengawasan, tetapi pada pemberdayaan anak dan penegakan hukum.
Brerikut beberapa langkah-langkah strategis untuk mencegah penyebaran child grooming :
- Edukasi seksual sejak dini (Body Safety). Anak-anak perlu memahami tubuh mereka sendiri agar bisa mengenali ketika seseorang mulai melanggar batas tersebut. Sentuhan Boleh dan tidak boleh sangat penting kita ajarkan bagian mana yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain.
- Ajarkan anak untuk berkata “Tidak” jika mereka merasa tidak nyaman, bahkan kepada orang dewasa yang mereka kenal.
- Gunakan nama organ tubuh yang benar agar jika terjadi sesuatu, anak bisa melaporkannya dengan jelas tanpa rasa malu dan takut.
- Memperkuat komunikasi terbuka dirumah, karena biasanya pelaku mencari anak yang merasa kesepian atau kurang perhatian dirumah.
- Menjadi pendengar yang aman dan tanpa penghakiman, agar anak tahu bahwa mereka tidak akan dimarahi jika menceritakan sesuatu yang aneh yang mereka alami, sehingga mereka akan dengan senang hati melapor saat ada orang asing yang mulai mendekati.
- Diera digital, orang tua tidak cukup hanya membatasi jam main ponsel, tapi juga harus mengerti dunia digital anak. Gunakan aplikasi pengawasan untuk memfilter konten dan memantau dengan siapa anak berinteraksi. Kemudian biasakan anak menggunakan gadget di ruang keluarga, bukan dikamar yang tertutup sendirian.
- Beritahu pada anak jangan mengirim foto atau video dirinya dengan sembarangan atau atas permintaan seseorang karena akan menetap selamanya di internet dan bisa digunakan orang jahat untuk mengancam (pemerasan).
- Sekolah dan lingkungan sekitar harus menjadi benteng pertahanan kedua. Oleh karena itu sangat penting untk memberikan sosialisasi dan pelatihan bagi komunitas dan tenaga pendidik.
- Masyarakat harus berani bicara untuk memutus rantai korban. Sering sekali kasus tidak dilaporkan karena takut nama baik keluarga tercemar. Sehingga membiarkan pelaku bebas dan berkesempatan mencari korban baru.
- Manfaatkan layanan seperti SAPA 129 (KEMENPPPA) atau melaporkan langsung ke unit PPA di kepolisian setempat jika melihat tindakan grooming.
Mengapa langkah ini menurut saya sangat penting untuk kita jadikan pedoman dan mengedukasi anak sejak dini karena pelaku child grooming bekerja sebagai predator yang sabar. Dengan membekali anak dengan rasa percaya diri dan pengetahuan, maka kita membuat anak-anak kita menjadi “target yang sulit” bagi para pelaku.
Belakangan ini, nama Aurelie Moermans ramai diperbincangkan setelah ia secara terbuka mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming. Pengalaman tersebut dituangkan dalam sebuah buku berjudul Broken Strings, yang dibagikan secara gratis melalui media sosialnya. Kisah ini membuka mata banyak orang bahwa kekerasan emosional dan seksual bisa terjadi secara halus, bertahap, dan sering kali luput dari perhatian orang tua maupun lingkungan sekitar. Lewat cerita Aurelie, kita belajar bahwa child grooming bukan sekadar isu personal, melainkan masalah kesehatan mental dan sosial yang serius. Menghadapi ancaman child grooming memang bisa membuat orang tua merasa khawatir, namun kecemasan tersebut sebaiknya dibah menjadi kewaspadaan terukur.
Berikut beberapa saran saya pribadi yang saya gunakan sendiri untuk mengedukasi anak
- Jadilah “teman curhat” untuk anak. Jika anak merasa kebutuhan emosionalnya terpenuhi dirumah, mereka akan sulit dimanipulasi oleh orang asing. Luangkan waktu minimal 15 menit tanpa gadget. Tanyakan hal-hal spesifik seperti, “ada kejadian lucu tidak disekolah tadi? Atau bagaimana hari ini? Atau “ada yang bikin kamu kesal hari ini?”.
- Berdayakan anak dengan “Insting Bahaya”. Jangan hanya melarang, tapi ajarkan pada anak, “kalau kamu merasa tidak nyaman, deg-degan yang tidak enak, atau merasa ada yang aneh saat bicara dengan seseorang meskipun itu orang yang kita kenal kamu boleh langsung pergi dan ceritakan ke Mama/Papa. Mama dan papa tidak akan marah.”
- Dijaman ini, Kita sering kali tidak bisa menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, tapi kita bisa mengatur lingkungannya. Gunakan fitur family link atau pengaturan parental control. Terapkan aturan bermain HP di ruang terbuka, jangan biarkan dia mengunci diri di kamar saat menggunakan internet. Sesekali ikutlah bermain game yang mereka sukai untuk melihat bagaimana interaksi didalam komunitas game tersebut.
- Mewaspadai orang dewasa yang “Terlalu Baik”, meski sulit karena sering kali pelakunya adalah orang yang kita percaya. Tetapi tetaplah waspada ketika ada orang dewasa (guru, pelatih, tetangga atau kerabat) yang memberikan hadiah hanya untuk anak kita secara sembunyi-sembunyi, sering mengajak anak pergi berdua tanpa pengawasan orang lain dan memperlakukan anak seperti orang dewasa atau teman sebaya.
- Ajarkan anak untuk tidak mengirim foto diri, apalagi menampakkan bagian tubuh tertentu atau seragam sekolah kepada siapapun di internet, meskipun orang tersebut mengaku sebagai teman sebaya atau menjanjikan hadiah game.
Cobalah tanamkan kalimat ini pada anak secara berkala :
“Tubuhmu adalah milikmu. hanya boleh disentuh oleh kamu sendiri atau orang tua saat membersihkan/merawat. Tidak ada rahasia antara kamu dan orang dewasa lain yang tidak boleh mama atau papa tahu. Kalau ada yang memintamu merahasiakan sesuatu, itu tandanya kamu harus segera cerita kepada kami.”
Child grooming bisa terjadi pada siapa saja dan sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak “normal”. Dengan meningkatkan kesadaran, memberikan edukasi yang tepat, dan membangun lingkungan yang aman bagi anak, kita dapat bersama-sama mencegah terjadinya luka yang berkepanjangan pada generasi muda.



