Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Episode 4: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata daripada Akhirat
oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada satu penyakit yang jarang kita akui.
Bukan karena kita tidak tahu.
Tapi karena ia terasa normal.
Kita lebih takut kehilangan pekerjaan
daripada kehilangan iman.
Kita lebih cemas kehilangan uang
daripada kehilangan pahala.
Kita lebih sibuk menata masa depan dunia
daripada menyiapkan kematian.
Dan tanpa sadar…
dunia terasa lebih nyata daripada akhirat.
—
Yang Terlihat Selalu Lebih Meyakinkan
Dunia ini bisa disentuh.
Gaji bisa dihitung.
Rumah bisa difoto.
Prestasi bisa dipamerkan.
Akhirat?
Ia tak terlihat.
Tak bisa diposting.
Tak bisa diukur dengan angka.
Padahal Allah telah mengingatkan:
> “Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Lebih baik.
Lebih kekal.
Tapi mengapa hati kita lebih terikat pada yang sementara?
—
Kita Tahu… Tapi Tidak Merasa
Kita hafal ayat tentang kematian.
Kita pernah mengantar jenazah.
Kita pernah berdiri di kuburan.
Tapi beberapa hari kemudian,
kita kembali sibuk mengejar dunia
seakan-akan kubur itu milik orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan: kematian.”¹
Bukan untuk membuat kita murung.
Tapi untuk membuat kita sadar.
Karena yang sering kita lupakan
adalah yang paling pasti.
—
Mihrab Maya dan Ilusi Keabadian
Di era digital, kita bisa membuat jejak yang panjang.
Foto tersimpan.
Video abadi.
Tulisan tersebar.
Seolah-olah kita akan terus ada.
Padahal satu hal yang tidak pernah berubah:
ajal tidak bisa ditunda.
Tidak ada notifikasi sebelum malaikat datang.
Tidak ada countdown sebelum ruh dicabut.
Dan yang menyedihkan…
kita lebih sering memperbarui status
daripada memperbarui taubat.
—
Cinta Dunia yang Diam-Diam
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa cinta dunia bukan berarti memiliki harta, tapi menjadikan dunia tujuan akhir.²
Masalahnya bukan punya rumah.
Masalahnya ketika rumah membuat kita lupa kubur.
Masalahnya bukan bekerja keras.
Masalahnya ketika kerja membuat kita lalai dari shalat.
Masalahnya bukan sukses.
Masalahnya ketika sukses membuat kita merasa tidak butuh Allah.
—
Ketika Dunia Mengalahkan Sujud
Pernahkah kita menunda shalat karena rapat?
Menunda zikir karena sibuk?
Menunda taubat karena merasa masih panjang umur?
Itulah tanda dunia mulai mengalahkan akhirat dalam hati.
Padahal Allah berfirman:
> “Setiap jiwa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Tidak ada pengecualian.
Tidak ada perpanjangan waktu.
Yang kaya mati.
Yang miskin mati.
Yang terkenal mati.
Yang terlupakan pun mati.
Dan yang akan menyelamatkan kita bukan reputasi…
tapi iman.
—
Bangunkan Hati Sebelum Terlambat
Tidak salah mencintai dunia.
Yang salah adalah menjadikannya lebih nyata daripada akhirat.
Cobalah malam ini duduk sendiri.
Bayangkan diri kita di dalam liang kubur.
Tidak ada ponsel.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada pengikut.
Hanya amal.
Hanya doa yang pernah kita panjatkan.
Hanya air mata yang pernah kita sembunyikan.
Kalau akhirat terasa jauh,
mungkin karena kita jarang mengingatnya.
Kalau dunia terasa dekat,
mungkin karena kita terlalu sering menatapnya.
—
Keseimbangan yang Hilang
Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia.
Islam mengajarkan kita menjadikan dunia sebagai jalan.
Bekerjalah, tapi jangan lupa tujuan.
Berusahalah, tapi jangan lupa kembali.
Bermimpilah, tapi jangan lupa mati.
Karena pada akhirnya…
yang akan kita bawa bukan apa yang kita miliki,
tapi siapa yang kita sembah.
—
Dari mihrab maya ini, mari kita bertanya:
Kalau hari ini adalah hari terakhir kita,
apakah kita siap?
Atau masih terlalu sibuk mempercantik dunia
yang akan kita tinggalkan?
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang anjuran mengingat kematian.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang cinta dunia ( _hubb al-dunya_ ).
_____________