Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Menyadari Dunia Hanya Persinggahan
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada satu kesadaran yang mengubah cara kita melihat segalanya.
Bahwa dunia ini…
bukan rumah.
Ia hanya persinggahan.
Tempat kita lewat.
Tempat kita diuji.
Tempat kita menanam.
Tapi bukan tempat kita tinggal selamanya.
Dan ketika kesadaran itu benar-benar masuk ke hati,
cara kita mencintai berubah.
Cara kita mengejar berubah.
Cara kita bersedih pun berubah.
—
Kita Terlalu Nyaman di Terminal
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”¹
Orang asing tidak membangun istana.
Musafir tidak menghias terminal.
Ia tahu akan pergi.
Tapi kita?
Kita membangun seolah-olah akan tinggal selamanya.
Kita marah seolah-olah dunia ini milik kita.
Kita takut kehilangan seolah-olah tidak ada akhirat.
Padahal dunia hanyalah jalan.
—
Mihrab Maya dan Ilusi Kepemilikan
Di era ini, kita bisa mengumpulkan banyak hal.
Aset.
Jabatan.
Pengaruh.
Jejak digital.
Kita merasa memiliki.
Padahal semua itu hanya titipan.
Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Permainan.
Permainan bukan untuk ditinggali.
Ia untuk dilewati.
Dan yang terlalu larut dalam permainan,
akan lupa tujuan.
—
Kesedihan yang Berlebihan
Mengapa kita terlalu hancur ketika kehilangan dunia?
Karena kita mengira ia segalanya.
Padahal yang hilang hanya persinggahan.
Bukan tujuan akhir.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan adalah akar banyak penyakit hati.²
Karena kita mencintai yang sementara
lebih daripada yang abadi.
—
Dunia Bukan untuk Dibenci, Tapi Ditata
Islam tidak mengajarkan kita membenci dunia.
Islam mengajarkan kita menempatkannya.
Gunakan dunia untuk akhirat.
Gunakan harta untuk amal.
Gunakan waktu untuk mendekat.
Bekerja, tapi jangan lalai.
Berusaha, tapi jangan sombong.
Mencintai, tapi jangan berlebihan.
Karena suatu hari,
semua akan kita tinggalkan.
—
Bayangkan Detik Terakhir
Ketika napas mulai berat.
Ketika mata mulai redup.
Ketika keluarga mengelilingi.
Apakah yang kita pikirkan?
Proyek yang belum selesai?
Target yang belum tercapai?
Atau amal yang belum cukup?
Di detik itu,
dunia tidak lagi terasa besar.
Yang besar hanyalah pertemuan dengan Allah.
—
Dari Mihrab Maya Menuju Kesadaran Abadi
Dari mihrab maya ini,
mari kita ubah cara melihat dunia.
Ia bukan rumah.
Ia ladang.
Ia bukan tujuan.
Ia jalan.
Katakan dalam hati:
“Ya Allah… jangan Engkau jadikan dunia tujuan terbesarku.
Jangan Engkau jadikan ia memenuhi hatiku.
Jadikan ia di tanganku, bukan di jiwaku.”
Karena mungkin kebahagiaan sejati
bukan ketika dunia sempurna…
tapi ketika kita sadar
bahwa ia hanya persinggahan menuju yang kekal.
—

Catatan Kaki
1. Hadis riwayat al-Bukhari tentang menjadi seperti orang asing atau musafir.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang hubb al-dunya (cinta dunia).
____
