Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Takut Amal Tidak Diterima
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Setelah taubat.
Setelah tangisan.
Setelah perjuangan panjang.
Datang satu rasa yang sangat sunyi:
Bagaimana jika semua ini tidak diterima?
Kita sudah shalat.
Sudah sedekah.
Sudah mencoba berubah.
Tapi hati tetap gelisah.
“Ya Allah… apakah Engkau menerima?”
Dan justru kegelisahan itu…
adalah tanda hati yang hidup.
—
Mereka yang Beramal, Tapi Tetap Takut
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut, karena mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)
Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ, apakah itu orang yang mencuri dan berzina?
Beliau menjawab:
“Bukan. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut amalnya tidak diterima.”¹
Lihatlah.
Mereka beramal.
Tapi tidak pernah merasa aman.
Kita beramal sedikit…
lalu merasa cukup.
—
Bahaya Merasa Pasti Diterima
Di era ini, kita terbiasa dengan validasi.
Ada tanda centang.
Ada notifikasi berhasil.
Ada konfirmasi terkirim.
Tapi dalam amal,
tidak ada notifikasi diterima.
Kita tidak pernah tahu.
Dan justru karena itu,
kita harus terus menjaga hati.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa rasa takut amal tidak diterima menjaga seseorang dari ujub dan riya’.²
Takut membuat kita rendah hati.
Takut membuat kita terus memperbaiki niat.
—
Amal yang Tertolak Tanpa Kita Sadar
Bayangkan seseorang bersedekah,
tapi hatinya ingin dipuji.
Bayangkan seseorang berdakwah,
tapi ingin disebut namanya.
Secara lahiriah ia beramal.
Secara batin ia mencari manusia.
Dan kita tidak pernah tahu
apakah amal kita murni.
Maka kegelisahan itu perlu.
Bukan untuk membuat putus asa.
Tapi untuk membuat kita terus membersihkan hati.
—
Antara Takut dan Harap
Perjalanan kepada Allah selalu di antara dua sayap:
Takut amal ditolak.
Harap amal diterima.
Kalau hanya takut, kita bisa putus asa.
Kalau hanya berharap, kita bisa meremehkan.
Katakan dalam doa:
“Ya Allah… terimalah amal kecilku.
Ampuni kekuranganku.
Jangan Engkau kembalikan amal ini kepadaku dalam keadaan tertolak.”
Karena mungkin yang menyelamatkan bukan banyaknya amal…
tapi rahmat-Nya yang menerima.
—
Bayangkan Hari Penyerahan Amal
Suatu hari, lembaran dibuka.
Kita melihat amal yang kita lupakan.
Dan mungkin juga dosa yang kita anggap kecil.
Di hari itu, kita tidak lagi bisa menambah.
Tidak lagi bisa memperbaiki.
Yang bisa kita lakukan hanya berharap.
Dan mungkin satu kalimat yang paling kita inginkan adalah:
“Aku terima.”
—
Dari mihrab maya ini,
jangan pernah berhenti beramal.
Dan jangan pernah merasa aman dengan amal.
Teruslah melangkah.
Teruslah membersihkan niat.
Teruslah berharap.
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada besarnya amal…
tapi pada diterimanya amal itu di sisi Allah.
—

Catatan Kaki
1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang orang yang takut amalnya tidak diterima.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang khauf dan menjaga niat.
