Kolom

Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Terlalu Banyak Bicara, Tapi Sedikit Beramal

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Terlalu Banyak Bicara, Tapi Sedikit Beramal

Oleh Ust Abdul Latif Khan

Ada satu ironi yang sunyi.

Kita pandai berbicara tentang kebaikan.
Pandai menulis tentang keikhlasan.
Pandai mengingatkan tentang akhirat.

Tapi ketika malam tiba…
amal kita sedikit.

Lisan fasih.
Jari cepat mengetik.
Status penuh nasihat.

Namun sajadah kita sepi.

Dan tanpa sadar,
kita menjadi orang yang banyak berkata,
tapi sedikit berbuat.

Allah Tidak Butuh Kata-Kata Kita

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff: 2–3)

 

Ayat ini bukan untuk mempermalukan.
Tapi untuk mengguncang.

Karena betapa mudahnya berkata,
dan betapa beratnya melaksanakan.

Kita bisa menulis panjang tentang sabar.
Tapi sulit menahan marah.

Kita bisa berbicara tentang tawakal.
Tapi gelisah ketika rezeki seret.

Kita bisa mengingatkan orang tentang shalat.
Tapi shalat kita sendiri terburu-buru.

Mihrab Maya dan Panggung Kata

Di dunia digital,
kata-kata lebih cepat dari amal.

Satu menit bisa menulis nasihat.
Satu detik bisa membagikan ayat.

Dan kita merasa telah berbuat sesuatu.

Padahal mungkin yang Allah tunggu
bukan tulisan kita…
tapi sujud kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”¹

 

Bukan caption.
Bukan komentar.
Tapi amal.

Ilmu yang Tidak Diamalkan

Ilmu itu cahaya.
Tapi jika tidak diamalkan,
ia bisa menjadi beban.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa ilmu tanpa amal dapat menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.²

Bayangkan…
setiap nasihat yang kita tulis,
akan menjadi pertanyaan:

“Sudahkah engkau melakukannya?”

Setiap ayat yang kita bagikan,
akan menjadi saksi:

“Apakah engkau menghidupkannya?”

Bukan Berarti Diam, Tapi Seimbang

Ini bukan berarti kita harus berhenti berbicara.

Dakwah itu mulia.
Nasihat itu penting.

Tapi biarlah amal mendahului kata.

Kalau kita menulis tentang sabar,
pastikan kita sedang belajar sabar.

Kalau kita mengingatkan tentang taubat,
pastikan kita sendiri sedang bertaubat.

Biarlah kata-kata lahir dari luka yang sedang kita obati,
bukan dari kesombongan yang kita sembunyikan.

Sunyi yang Lebih Berharga

Ada amal yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Tahajud yang tidak diposting.
Sedekah yang tidak difoto.
Air mata yang tidak direkam.

Dan mungkin itu lebih berat di timbangan
daripada ribuan kata yang viral.

Karena pada akhirnya,
yang menyelamatkan kita bukan seberapa banyak kita berbicara tentang Allah…
tapi seberapa sering kita benar-benar mendekat kepada-Nya.

Kembali ke Diri Sendiri

Dari mihrab maya ini,
mari kita bertanya dengan jujur:

Apakah aku lebih banyak berbicara atau beramal?
Apakah lisanku lebih aktif daripada sajadahku?
Apakah aku lebih sibuk menasihati orang lain daripada memperbaiki diri?

Kalau jawabannya menyakitkan,
itu tanda hati masih hidup.

Katakan dalam doa:

“Ya Allah… jadikan lisanku selaras dengan amalanku.
Jangan Engkau jadikan aku hanya pandai berkata, tapi miskin perbuatan.
Jadikan setiap kata yang keluar dariku lahir dari amal yang tulus.”

Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada banyaknya nasihat yang kita sampaikan…
tapi pada sunyi amal yang hanya Engkau dan Allah yang tahu.


Catatan Kaki

1. Hadis riwayat Muslim tentang Allah melihat hati dan amal.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang ilmu dan amal.
____