Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Menyadari Bahwa Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada masa dalam hidup kita
ketika semuanya terasa gelap.
Doa terasa jauh.
Air mata terasa kering.
Langkah terasa berat.
Kita merasa sendiri.
Merasa tidak didengar.
Merasa ditinggalkan.
Tapi mungkin yang salah bukan Allah yang menjauh.
Mungkin kita yang tidak menyadari…
bahwa Dia tidak pernah pergi.
—
Saat Kita Mengira Allah Jauh
Ketika doa belum terkabul,
kita bertanya,
“Ya Allah, Engkau di mana?”
Ketika usaha gagal,
kita merasa tidak ditolong.
Ketika jatuh berulang kali,
kita merasa tidak dibimbing.
Padahal Allah sudah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Bukan “Aku akan dekat.”
Bukan “Aku kadang dekat.”
Aku dekat.
—
Kedekatan yang Tidak Selalu Terasa
Kedekatan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan.
Kadang ia hadir dalam ujian.
Kadang dalam kegagalan.
Kadang dalam air mata.
Karena mungkin dengan ujian itulah
kita kembali sujud.
Dengan kegagalan itulah
kita berhenti sombong.
Dengan luka itulah
kita menyebut nama-Nya lebih sering.
Dan di situlah sebenarnya
Allah sedang mendekatkan kita kepada-Nya.
—
Mihrab Maya dan Kesunyian yang Menguatkan
Di tengah keramaian dunia digital,
kadang kita merasa paling sepi.
Tidak ada yang benar-benar mengerti.
Tidak ada yang tahu isi hati.
Tapi Allah tahu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”¹
Bayangkan kegembiraan itu.
Kita merasa kecil.
Merasa penuh dosa.
Merasa gagal.
Tapi setiap kali kita kembali,
Allah menyambut.
—
Kita yang Sering Pergi
Kalau jujur,
berapa kali kita menjauh?
Berapa kali kita lalai?
Berapa kali kita menunda taubat?
Berapa kali kita lebih memilih dunia?
Namun setiap kali kita kembali,
pintu itu tetap terbuka.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis bahwa rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya.²
Artinya, selama kita masih ingin kembali,
Allah masih membuka jalan.
—
Tanda Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita
Kalau hari ini kita masih membaca muhasabah ini…
itu tanda.
Kalau hati masih tersentuh…
itu tanda.
Kalau masih ada rasa bersalah…
itu tanda.
Karena hati yang benar-benar ditinggalkan
tidak lagi peduli.
Dan kalau kita masih peduli,
itu artinya Allah masih menjaga kita.
—
Dari Takut Sendiri ke Yakin Ditemani
Mungkin hidup kita belum sempurna.
Mungkin dosa masih ada.
Mungkin istiqamah masih goyah.
Tapi satu hal pasti:
Allah tidak pernah meninggalkan kita.
Kita yang sering lupa.
Kita yang sering lalai.
Kita yang sering menjauh.
Maka dari mihrab maya ini,
mari kita katakan:
“Ya Allah… terima kasih karena tidak pernah menyerah kepadaku.
Walau aku sering menjauh, Engkau tetap membuka pintu.
Walau aku lemah, Engkau tetap memanggil.”
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada seberapa kuat kita berjalan…
tapi pada keyakinan bahwa Allah selalu membersamai.

