Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Air Mata Menjadi Saksi di Hadapan Allah

Kolom48 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Air Mata Menjadi Saksi di Hadapan Allah

OLEH UST ABDUL LATIF KHAN

Ada air mata yang jatuh karena dunia.

Karena kecewa.
Karena kehilangan.
Karena luka.

Tapi ada air mata yang jauh lebih berharga.

Air mata yang jatuh karena Allah.
Karena merasa berdosa.
Karena takut ditolak.
Karena rindu ingin dekat.

Dan mungkin…
air mata seperti itulah
yang akan menjadi saksi di hadapan-Nya.

Air Mata yang Tidak Terlihat Manusia

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah:

“Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata.”¹

Sendiri.

Bukan di depan kamera.
Bukan di hadapan jamaah.
Bukan dalam keramaian.

Tapi di sunyi.

Air mata yang tidak diketahui siapa pun.
Yang tidak diumumkan.
Yang tidak dibagikan.

Hanya Allah yang melihat.

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata daripada Akhirat

Mihrab Maya dan Tangisan yang Dipamerkan

Di zaman ini, bahkan tangisan bisa menjadi tontonan.

Kita bisa merekam kesedihan.
Membagikan momen haru.
Mengemas luka menjadi konten.

Tapi tangisan yang menyelamatkan
adalah yang lahir dari hati,
bukan untuk ditonton.

Tangisan yang tidak mencari simpati manusia,
tapi rahmat Allah.

Mengapa Kita Sulit Menangis?

Karena hati terlalu keras.
Karena dosa terlalu sering diulang.
Karena dunia terlalu memenuhi dada.

Allah berfirman:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)

Air mata adalah tanda hati yang hidup.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa menangis karena takut kepada Allah adalah cahaya bagi hati dan bukti kelembutan jiwa.²

Kalau sulit menangis,
mohonlah kelembutan.

Tangisan yang Menyelamatkan

Ada hadis yang menyebutkan bahwa mata yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan disentuh api neraka.³

BACA JUGA :  Menelisik Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi Pasca Putusan MK dan Penerapannya di Pengadilan Tipikor

Bayangkan…

Satu tetes air mata.
Mungkin kecil.
Mungkin singkat.

Tapi bisa menjadi penghalang antara kita dan api.

Betapa sering kita menangis karena dunia,
tapi jarang menangis karena akhirat.

Bayangkan Hari Itu

Suatu hari, kita berdiri di hadapan Allah.

Tidak ada yang bisa kita sembunyikan.
Tidak ada yang bisa kita ubah.

Di antara amal besar dan kecil,
di antara dosa yang terang dan tersembunyi…

mungkin ada satu tetes air mata
yang kita lupakan.

Air mata yang jatuh di sepertiga malam.
Air mata yang lahir dari penyesalan.
Air mata yang kita usap cepat karena malu.

Dan Allah berkata,
“Aku melihatnya.”

Jangan Tunggu Hancur Baru Menangis

Tangisan bukan tanda lemah.
Ia tanda sadar.

Kalau hati kita masih bisa bergetar,
itu nikmat besar.

Dari mihrab maya ini,
mari kita minta:

BACA JUGA :  Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Rindu Bertemu Allah

“Ya Allah… lembutkan hatiku.
Berikan aku air mata yang lahir dari takut dan cinta kepada-Mu.
Jangan jadikan mataku kering dari mengingat-Mu.”

Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada panjangnya ceramah,
bukan pada banyaknya tulisan,
tapi pada satu tetes air mata
yang Engkau terima.

Ini Episode 24.
Dan mungkin yang paling sunyi.

Karena di akhir perjalanan ini,
yang tersisa bukan kata-kata…
tapi hati.

Dan ketika hati menangis karena Allah,
itulah saat ia benar-benar hidup.

Catatan Kaki

1. Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang tangisan dan kelembutan hati.
3. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang mata yang menangis karena takut kepada Allah tidak disentuh api neraka.
____________
*Support MT Assakinah di No rek Mandiri 1060010194564 an A. LATIF*