Oleh: Junaidi Syaputra Piliang,S.Sos
ALUMNI KAMMI
Prahara yang sedang terjadi hari ini, alangkah baiknya bila kedua belah pihak menahan diri. Bila belum mampu saling menyejukkan, setidaknya jangan saling melempar narasi perpecahan. Sebab sering kali kita hanya sedang mempertahankan kebenaran versi kita masing-masing; dan ketika setiap pihak merasa paling benar, maka yang gugur pertama kali adalah kejernihan nalar.
Bukankah adik-adik yang hari ini bertikai itu dahulu adalah buah dari pengkaderan kita sendiri? Mungkin tangan kita pernah menggandeng mereka dalam pembinaan, mungkin kita pernah duduk dalam satu daurah, mungkin pernah bersimpuh dalam satu halaqah, bahkan mungkin pernah menangis dalam doa yang sama. Maka mengapa hari ini, hanya karena beda langkah dan beda cara, kita kehilangan nurani untuk tetap saling menyayangi?
Proses hukum sedang berjalan. Sekalipun hati ini menyimpan kecewa karena jalan itu yang dipilih, namun lebih pilu lagi melihat ukhuwah yang selama ini lantang kita serukan seakan luruh tanpa bekas. Ke mana perginya materi-materi daurah yang dahulu kita sampaikan dengan penuh keyakinan? Bukankah telah jelas dalam Hadis Arbain: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Ataukah bara amarah telah sedemikian tinggi, hingga akal kehilangan daya timbangnya? Padahal manusia dimuliakan bukan karena keras suaranya, tetapi karena mampu menaklukkan dirinya sendiri. Dialektika tanpa kasih hanya melahirkan benturan, sedangkan perjuangan tanpa cinta hanya melahirkan puing.
Sudahlah. Hentikan semua ini. Runtuhkan ego yang menjulang itu. Manajemen konflik ini telah berjalan terlalu jauh, menyeret banyak hati yang dulu saling percaya menjadi asing satu sama lain. Wahai kalian yang berada di pucuk, berdamailah. Duduklah bersama. Ingat kembali kenangan yang pernah kalian torehkan dalam satu saf perjuangan, dalam tawa yang sama, dalam letih yang sama, dalam cita-cita yang sama.
Semoga peristiwa berdarah ini menjadi momentum kesadaran: bahwa perpecahan, dalam bentuk apa pun, tak pernah melahirkan kebaikan. Ia hanya mewariskan luka, dendam, dan kehilangan.
Cepat pulihlah, kesatuanku.
Sebab terlalu banyak orang yang diam-diam menangis melihatmu retak.