Menteri PPPA: Hanya 20 Persen Anak Nyaman Curhat kepada Orang Tua, Komunikasi Keluarga Jadi Sorotan

Nasional12 Dilihat

Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti masih lemahnya komunikasi antara anak dan orang tua di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar anak justru lebih memilih menceritakan masalah yang dihadapi kepada teman sebaya dibandingkan kepada keluarga.

Hal itu disampaikan Arifah dalam konferensi pers memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Kita ingin membangun kembali kesadaran bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam memenuhi hak anak dan memberikan perlindungan kepada mereka. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk didengar,” ujar Arifah.

BACA JUGA :  JAM-Pidum Dorong Penanganan Humanis dan Terintegrasi Tindak Pidana Narkotika

Ia mengungkapkan, Forum Anak Jawa Tengah pernah menggelar survei yang diikuti lebih dari 20 ribu anak dalam waktu 10 hari. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah kepada siapa mereka memilih bercerita ketika menghadapi masalah.

Hasil survei tersebut menunjukkan fakta yang memprihatinkan. Hanya sekitar 20 persen anak mengaku lebih memilih curhat kepada orang tua, sementara 80 persen lainnya merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan teman sebaya.

BACA JUGA :  Jaksa Agung Tegaskan Implementasi KUHP Nasional dalam Peluncuran Buku Tinjauan KUHP 2023

“Ada satu pertanyaan yang sangat menggelitik, ketika mereka ditanya kalau punya masalah curhat ke siapa, hanya 20 persen yang menjawab kepada orang tua, sedangkan 80 persen kepada teman,” ungkapnya.

Menurut Arifah, temuan tersebut menjadi alarm bagi keluarga Indonesia. Sebab, teman sebaya belum tentu memiliki kemampuan memberikan solusi yang tepat ketika anak menghadapi persoalan.

Ia pun mempertanyakan mengapa rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk menyampaikan perasaan maupun masalah yang mereka alami.

“Ketika hanya 20 persen yang curhat kepada orang tua, saya bertanya, ada apa dengan keluarga mereka? Ada apa dengan rumah mereka sehingga mereka tidak memiliki kesempatan atau kenyamanan untuk bercerita kepada orang tuanya? Ini menjadi perhatian kita bersama,” katanya.

BACA JUGA :  255 Ribu Anak Tidak Sekolah di Sumatera Utara

Arifah berharap peringatan Hari Anak Nasional dapat menjadi momentum bagi para orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih hangat dengan anak. Menurutnya, rumah seharusnya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh dukungan bagi anak untuk menyampaikan setiap persoalan yang mereka hadapi.