Nezar Djoeli ‘Sentil’ Program Makan Bergizi Gratis: Pak Prabowo Hanya Terima Laporan Asal Bapak Senang

Nasional, Sumut73 Dilihat

MEDAN – Tokoh masyarakat Sumatera Utara, Nezar Djoeli melontarkan kritikan terkait carut-marut pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Nezar menilai, Presiden seolah “dibutakan” oleh laporan manis dari para bawahan, sementara fakta di lapangan justru berbanding terbalik.

“Saya melihat Pak Prabowo hari ini cenderung hanya mengerti di garis atas saja,” tegas Nezar Djoeli kepada wartawan, Senin (27/4/2026).

Nezar juga menyoroti adanya jurang pemisah antara laporan yang diterima Presiden dengan realita pahit di akar rumput. Menurutnya, jajaran birokrasi mulai dari Menteri, Dirjen, hingga Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) cenderung hanya menyodorkan laporan yang “baik-baik saja”.

BACA JUGA :  Ketua DPP HARI Apresiasi Kinerja Kejagung dalam Pemulihan Aset Negara dan Perlindungan Hutan

Padahal, Nezar mencatat masih banyak insiden memprihatinkan yang luput dari evaluasi serius pemerintah pusat.

“Ternyata di lapangan masih banyak yang keracunan, bahkan ada korban meninggal dunia. Ini membuktikan ada masalah besar dalam pengawasan,” ungkapnya.

Tak hanya soal kesehatan siswa, Nezar juga mengkritik kinerja para pengusaha mitra yang terkesan asal-asalan dalam menjalankan operasional. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah penempatan dapur MBG yang dianggap tidak strategis dan tidak efisien.

BACA JUGA :  Kejaksaan RI Evaluasi Kinerja Semester I 2025, Tekadkan Transformasi Menuju Penegakan Hukum yang Lebih Baik

Koordinat Berantakan. Perletakan dapur tidak sesuai dengan koordinat sekolah sasaran. Limbah Tak Terkendali. Proses pengendalian limbah yang buruk di sekitar dapur produksi.Standar Rendah. Belum adanya sertifikasi alam dan standarisasi higienis yang mumpuni dari pemerintah.

Nezar membandingkan kondisi di Indonesia dengan Jepang yang sudah menjalankan program serupa selama satu abad. Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia belum bisa disamakan karena masih menggunakan cara-cara manual yang rentan kontaminasi.

“Kita kepingin seperti Jepang yang sudah 100 tahun makan gratis. Tetapi ingat, proses mereka sudah robotik, higienis, dan sterilisasinya betul-betul memiliki standar. Sementara kita masih manual,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dugaan Patgulipat Proyek di Disdik Sumut, Nezar Djoeli Nilai Abdul Haris Lubis Abai Kearifan Lokal

Mengakhiri pernyataannya, Nezar Djoeli meminta Presiden Prabowo untuk bertindak tegas dan tidak sekadar menerima laporan di atas meja. Ia mendesak adanya audit total terhadap seluruh dapur operasional MBG demi keselamatan para siswa.

“Saya minta Pak Presiden tegas mengendalikan seluruh dapur yang ada. Pastikan kelayakan operasionalnya agar program ini betul-betul dapat dinikmati masyarakat, khususnya siswa-siswa kita, bukan justru membahayakan mereka,” pungkasnya. (bj)