JAKARTA- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa almarhum Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno telah meninggalkan keteladanan tentang arti mencintai bangsa dan negara. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Senin (2/3/2026), menyusul wafatnya tokoh militer dan negarawan tersebut.
Prasetyo menyebut, semasa hidupnya Try Sutrisno kerap mengingatkan pentingnya menjaga Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai fondasi bernegara. Ia juga terus mendorong generasi muda untuk memperkuat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan. Nilai-nilai itu, menurutnya, patut terus dipegang oleh seluruh rakyat Indonesia.
Pemerintah dan masyarakat, lanjut dia, merasa kehilangan sosok yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk kepentingan bangsa. Ia mengajak seluruh rakyat Indonesia mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.
Jenazah Try Sutrisno diberangkatkan dari Masjid Sunda Kelapa menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata untuk dimakamkan secara militer. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) yang merawat almarhum hingga dinyatakan wafat pada usia 90 tahun.
Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden periode 1993–1998 pada masa pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto. Dalam tahun-tahun terakhirnya, ia masih aktif di berbagai kegiatan kenegaraan, termasuk sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) periode 2022–2027.
Upacara pemakaman dipimpin langsung Presiden Prabowo Subianto selaku inspektur upacara. Prosesi diawali dengan laporan komandan upacara, dilanjutkan pembacaan riwayat hidup almarhum yang memuat perjalanan karier militernya serta berbagai tanda jasa dan penghargaan yang diterima, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam apel persada, Presiden Prabowo atas nama negara mempersembahkan jiwa, raga, dan jasa almarhum kepada ibu pertiwi, seraya berharap pengabdian Try Sutrisno menjadi teladan bagi generasi penerus.
Prosesi penghormatan militer dilanjutkan dengan penembakan salvo, pembentangan bendera Merah Putih di atas liang lahat, serta penimbunan tanah secara simbolis oleh Presiden. Hadir dalam upacara tersebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para pimpinan TNI, jajaran menteri, serta sejumlah tokoh nasional, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden ke-11 Boediono.
Upacara ditutup dengan doa yang dipimpin Menteri Agama, kemudian Presiden menyerahkan bendera Merah Putih dan naskah apel persada kepada keluarga sebagai simbol penghormatan terakhir negara. Kepergian Try Sutrisno menjadi duka mendalam bagi bangsa Indonesia atas wafatnya seorang prajurit dan negarawan yang setia mengabdi. (isl)

