SBY Dukung Prabowo Desak PBB Investigasi Insiden TNI di Lebanon

Nasional, Politik77 Dilihat

 

JAKARTA- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi menyeluruh atas serangkaian insiden yang menimpa prajurit TNI di Lebanon.

Insiden tersebut terjadi dalam misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang hingga kini telah menewaskan tiga prajurit TNI serta melukai delapan lainnya.

“Indonesia berduka. Tiga prajurit kita gugur saat menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon, dan beberapa lainnya mengalami luka berat,” tulis SBY melalui akun X, Minggu (5/4/2026).

SBY mengaku sangat tersentuh saat memberikan penghormatan terakhir kepada tiga prajurit yang gugur, yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.

BACA JUGA :  Rising Star Akpol 1997 Fadillah Zulkarnaen: Calon Kapolda Muda

Menurutnya, meskipun seorang prajurit telah disumpah untuk siap berkorban demi negara, duka mendalam tetap dirasakan keluarga yang ditinggalkan.

“Saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi keluarga mereka,” ungkapnya.

SBY menegaskan pentingnya investigasi yang serius, jujur, dan adil. Ia menilai Indonesia berhak mendapatkan penjelasan yang masuk akal atas rangkaian insiden yang terjadi.

PBB Diminta Bertindak Tegas

SBY menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian seperti Kontingen Garuda bertugas dalam misi peacekeeping, bukan peacemaking. Artinya, mereka tidak dipersenjatai secara penuh dan tidak berada dalam mandat tempur aktif.

Namun, situasi di lapangan saat ini dinilai telah berubah. Wilayah yang sebelumnya relatif aman di sekitar “blue line” kini telah menjadi zona konflik antara Israel dan Hizbullah.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo Subianto Beri Taklimat Komandan Satuan TNI 2026 di Universitas Pertahanan, Tekankan Peran Garda Terdepan untuk Rakyat

Kondisi ini membuat para peacekeeper berada dalam risiko tinggi.

SBY pun mendesak PBB segera mengambil langkah tegas, termasuk kemungkinan menghentikan sementara misi UNIFIL atau memindahkan pasukan ke wilayah yang lebih aman.

“Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan mengeluarkan resolusi yang jelas dan tegas,” ujarnya.

Pengalaman SBY di Misi PBB

SBY juga mengingatkan bahwa dirinya pernah bertugas dalam misi PBB di Bosnia pada 1995–1996 sebagai Kepala Pengamat Militer PBB.

Ia menegaskan bahwa investigasi dalam situasi konflik memang tidak mudah, tetapi tetap harus dilakukan secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA :  Prabowo di Forum Board of Peace: RI Siap Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza

Sejarah Keterlibatan Indonesia di Lebanon

SBY mengungkapkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon dimulai pada 2006, pasca konflik antara Israel dan Lebanon.

Saat itu, Indonesia mengirimkan Kontingen Garuda sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian PBB setelah gencatan senjata tercapai.

Hingga 2026, Indonesia telah mengirimkan puluhan kontingen dengan masa tugas rata-rata satu tahun, menjadikannya salah satu misi terpanjang yang diikuti Indonesia.

Pesan untuk Prajurit

Sebagai penutup, SBY menyampaikan pesan kepada prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon agar tetap semangat dan menjaga keselamatan.

“Laksanakan tugas sebaik-baiknya, dan jaga diri. Keluarga menunggu kepulangan kalian di Tanah Air,” tutupnya. (isl)