BRIN Kaji Potensi Tempe untuk Dukung Penuaan Sehat Lansia

Ragam16 Dilihat

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji potensi pangan tempe dan probiotik guna mendukung penuaan sehat (healthy aging) bagi para lansia, khususnya perempuan lanjut usia yang rentan mengalami masalah kesehatan akibat penurunan hormon estrogen.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Iskandar Azmy Harahap, menjelaskan bahwa perempuan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki.

Menurutnya, fase menopause merupakan periode krusial karena penurunan hormon estrogen dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari perubahan mikrobiota usus hingga penurunan kepadatan mineral tulang.

BACA JUGA :  Tren di Jepang! Spa Refleksi Diri Meditasi di Peti Mati

“Osteoporosis menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di tengah meningkatnya populasi lansia. Selama ini pengobatan osteoporosis masih banyak mengandalkan terapi konvensional yang memiliki keterbatasan, terutama untuk penggunaan jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Sebagai alternatif, BRIN meneliti intervensi berbasis nutrisi melalui pangan fermentasi berbahan kedelai seperti tempe yang kaya isoflavon. Penelitian tersebut juga mengombinasikan tempe dengan probiotik dan kalsium guna mendukung kesehatan tulang sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

BACA JUGA :  Dari Lampu Merah ke Ruang Sidang: Jalan Panjang Eka Putra Zakran

“Hasil penelitian awal menunjukkan kombinasi nutrisi tersebut memiliki potensi mendukung proses pembentukan sel tulang,” kata Iskandar.

Dalam uji pra-klinis, konsumsi tempe bersama probiotik dikaitkan dengan perbaikan status kalsium serta indikator metabolisme tulang. Selain itu, studi pada perempuan pasca-menopause menunjukkan adanya indikasi bahwa probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme tulang.

BACA JUGA :  Indonesia Paling Dermawan di Dunia 2026 Versi WHR, Ungguli 147 Negara

Meski demikian, Iskandar menegaskan hasil penelitian tersebut masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan secara luas kepada masyarakat.

“Penelitian dari sel, hewan, hingga manusia merupakan proses bertahap sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi tanpa validasi yang kuat,” ucapnya.

BRIN berharap intervensi berbasis nutrisi dan pemanfaatan pangan lokal seperti tempe dapat menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia serta meningkatkan kualitas hidup lansia di masa mendatang. (r/isl)