Kolaborasi Klinik Marga Ayu dan Undhira: Edukasi Fisik dan Mental untuk Lawan Komplikasi Kronis

Ragam47 Dilihat

BADUNG – Klinik Pratama Marga Ayu bekerja sama dengan LPPM Universitas Dhyana Pura meluncurkan program pengabdian masyarakat bertajuk “Sehat Fisik dan Mental Bersama Prolanis”, sebuah inisiatif terpadu untuk menekan risiko komplikasi penyakit kronis melalui pendekatan fisioterapi dan psikiatri komunitas. Program ini menyasar peserta Prolanis, terutama penderita diabetes mellitus dan hipertensi yang tergolong berisiko tinggi mengalami stroke.

Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, sementara diabetes melitus 10,9%. Komplikasi seperti stroke turut membebani pembiayaan kesehatan nasional dan menurunkan kualitas hidup kelompok lansia.

Tim pengabdian menemukan bahwa kegiatan Prolanis yang telah berjalan di Klinik Marga Ayu masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya pemahaman peserta terkait keterkaitan stres, kebugaran fisik, hipertensi, dan diabetes. Kurangnya dukungan fisioterapi sederhana dan edukasi kesehatan mental juga membuat risiko komplikasi semakin besar.

BACA JUGA :  Seberangi Laut Demi Syiar Islam, Pengabdian Latifah Sudarmy Berikan Penyuluhan Warga Pesisir Batu Bara

Melihat kondisi ini, tim menghadirkan pendekatan fisioterapi komunitas dan psikiatri komunitas sebagai pendamping layanan klinis, sejalan dengan konsep kesehatan holistik.

Rangkaian Kegiatan: Skrining, Edukasi, hingga Latihan Fisik

Sebanyak 16 peserta Prolanis mengikuti kegiatan utama pada 25 Oktober 2025, meliputi:

1. Pemeriksaan Tekanan Darah dan Gula Darah

Rata-rata tekanan darah peserta berada pada kisaran 130–150/90–100 mmHg, sementara gula darah puasa sekitar 120 mg/dL, menunjukkan risiko komplikasi yang signifikan.

2. Edukasi Interval Walking Training (IWT)

Materi oleh Ni Putu Dwi Larashati, S.Ft., Ftr., M.Fis., meningkatkan pemahaman peserta dari 69% menjadi 92%. Latihan ini dinilai efektif menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kebugaran.

BACA JUGA :  Menelisik Hak Nafkah Anak Setelah Perceraian

3. Edukasi Kesehatan Mental

Pemaparan oleh dr. Putu Anastasia Kharisma Meirianthi, Sp.KJ., mengenai manajemen stres dan deteksi dini ansietas mengangkat pemahaman peserta dari 72% menjadi 95%. Peserta juga mendapatkan sesi konseling kelompok ringan.

4. Skrining Risiko Stroke dan Kecemasan

Hasil menunjukkan lebih dari 70% peserta memiliki risiko stroke, sementara 56% mengalami kecemasan.

Materi Edukasi Digital untuk Keberlanjutan Program

Untuk memastikan pendampingan berkelanjutan, tim PKM memproduksi media edukasi seperti: video tutorial IWT;
booklet “Sehat Fisik dan Mental”; poster dan infografis; publikasi edukatif digital.

Semua materi dirancang agar peserta dapat berlatih dan mengedukasi diri di rumah.

Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) dan mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Mahasiswa fisioterapi terlibat dalam asesmen dan pendampingan peserta, sementara tenaga kesehatan klinik dilatih sebagai kader internal untuk melanjutkan program secara mandiri.

BACA JUGA :  Babinsa Koramil Cepogo Hadiri Tradisi Nyadran, Wujud Pelestarian Budaya dan Penguatan Silaturahmi Warga

Ketua tim, Ni Putu Dwi Larashati, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kemandirian peserta, bukan hanya memberi edukasi sesaat.

“Kami ingin peserta Prolanis mampu melakukan latihan fisik dan manajemen stres secara mandiri. Dengan begitu, risiko komplikasi seperti stroke, depresi, dan gangguan mobilitas dapat diminimalkan,” ujarnya.

Program “Sehat Fisik dan Mental Bersama Prolanis” diharapkan menjadi model kolaborasi kesehatan komunitas yang mampu memperkuat kualitas hidup lansia dan menekan risiko PTM secara berkelanjutan.(bj)