Prof Agus Sani Apresiasi Perjuangan Buya Rafdinal Rawat Bayi Terlantar, LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Medan Genap 9 Tahun

Medan, Sosial66 Dilihat

MEDAN – Pembina Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan, Prof. Dr. Agus Sani, mengapresiasi perjuangan Rafdinal, S.Sos., M.AP., yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri dalam pelayanan dan perlindungan bayi serta anak-anak terlantar.

Apresiasi tersebut disampaikan dalam acara tasyakuran Milad ke-9 LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan yang berlangsung di Jalan Jermal IV No. 18, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan masyarakat dan donatur, serta anggota DPRD Kota Medan, dr. Ade Taufiq. Acara berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan menampilkan berbagai potensi anak-anak asuh.

Kegiatan dibuka dengan penampilan anak-anak asuh LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan. Sementara itu, ceramah yang disampaikan salah seorang anak asuh, Anisa Harefa, menjadi penutup rangkaian acara sebelum penyerahan secara simbolik paket sembako dan meja belajar.

Dalam sambutannya, Prof. Agus Sani menyampaikan ucapan selamat atas sembilan tahun perjalanan LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan. Ia mengapresiasi Buya Rafdinal beserta seluruh pengurus dan pengasuh yang terus berupaya memberikan perlindungan serta pengasuhan kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Perjuangan merawat dan mendampingi anak-anak yang membutuhkan perlindungan tentu tidak mudah. Karena itu, saya mengapresiasi pengabdian Buya Rafdinal dan seluruh pengurus yang selama ini berupaya menjaga keberlangsungan LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan,” demikian inti apresiasi yang disampaikan Prof. Agus Sani.

Ia juga berharap lembaga tersebut memperoleh dukungan lebih luas, baik dari Persyarikatan Muhammadiyah, pemerintah, masyarakat, maupun para donatur, sehingga pelayanan terhadap anak-anak dapat terus berkembang.

Berharap Miliki Gedung Sendiri

Prof. Agus Sani turut mengenang perjalanan memperoleh tempat bagi LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan. Menurutnya, keberadaan tempat yang digunakan saat ini tidak terlepas dari gagasan, pendekatan, dan dukungan sejumlah tokoh, di antaranya Ibrahim Sakti Batubara, Anwar Efendi, serta tokoh Muhammadiyah lainnya.

BACA JUGA :  Safari Ramadhan 1446 H, Pangdam I/BB Sambangi Markas Denpom 1/5 Medan

Salah satu harapan besar ke depan adalah tersedianya tanah dan bangunan milik sendiri. Saat ini, tempat yang digunakan untuk menjalankan pelayanan masih berstatus sewa.

“Harapan kita, LKSA ini nantinya mempunyai pertapakan dan gedung sendiri. Dengan fasilitas yang lebih memadai, pelayanan kepada anak-anak dapat ditingkatkan dan dikembangkan,”  harap Prof. Agus Sani.

Ia juga mengharapkan dukungan serta arahan dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar upaya pengadaan tanah dan bangunan permanen dapat diperjuangkan bersama.

Selain fasilitas, perkembangan anak-anak asuh juga menjadi perhatian. Mereka diharapkan dapat terus melanjutkan pendidikan, mengembangkan bakat, dan tumbuh menjadi pribadi mandiri yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

Rafdinal: Bayi Terlantar Berhak Mendapatkan Masa Depan

Ketua LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan, Rafdinal, menjelaskan bahwa lembaga tersebut didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap bayi dan anak-anak yang mengalami penelantaran, kekerasan, maupun kehilangan pengasuhan yang layak.

LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan diresmikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 14 Oktober 2017. Sejak itu, lembaga tersebut terus berupaya menjalankan pelayanan perlindungan dan pengasuhan bagi anak-anak yang membutuhkan pertolongan.

Rafdinal mengungkapkan bahwa pengalamannya tumbuh di lingkungan panti asuhan sejak kecil serta keterlibatannya dalam pembinaan anak-anak panti sejak 2000 menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya.

“Bayi-bayi itu tidak meminta dilahirkan dalam kondisi terlantar. Namun, mereka berhak mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan kesempatan untuk tumbuh serta meraih masa depan yang lebih baik,” menjadi pesan utama Rafdinal dalam refleksi Milad ke-9 tersebut.

Menurutnya, persoalan bayi terlantar tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu lembaga. Diperlukan kepedulian dan kerja sama pemerintah, organisasi sosial, masyarakat, dunia usaha, serta para dermawan.

BACA JUGA :  KPU Kota Medan Umumkan Rancangan Dapil DPRD

Ia menjelaskan bahwa LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan menjalankan fungsi sebagai tempat perlindungan sementara (temporary shelter) sekaligus memberikan pelayanan perlindungan dan pemulihan bagi bayi serta anak yang membutuhkan penanganan.

Pelayanan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, pengasuhan, perlindungan, dan dukungan terhadap tumbuh kembang anak sesuai hak serta kepentingan terbaik mereka.

Menghidupkan Semangat Surat Al-Ma’un

Rafdinal mengaitkan perjuangan sosial tersebut dengan semangat Surat Al-Ma’un yang mengingatkan umat Islam agar tidak mengabaikan anak yatim dan masyarakat miskin.

Menurutnya, pengamalan ajaran agama tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang rentan.

Ia turut mengajak masyarakat menjadikan infak dan sedekah sebagai bentuk nyata kepedulian kepada anak-anak yang membutuhkan, mulai dari bantuan susu, popok, kebutuhan kesehatan, hingga dukungan operasional pengasuhan.

“Jangan biarkan perjuangan ini berjalan sendirian. Kami mengajak masyarakat, para pengusaha, donatur, pemerintah, dan keluarga besar Muhammadiyah untuk bersama-sama membuka pintu kemanusiaan bagi bayi-bayi terlantar,” demikian seruan Rafdinal.

Ia berharap LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan dapat terus berkembang dan memperoleh dukungan untuk mewujudkan gedung sendiri agar pelayanan kepada anak-anak dapat menjangkau kebutuhan yang lebih luas.

Pemprov Sumut Dorong Sinergi Perlindungan Anak

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Utara, Dewi Endah Rupani, menyampaikan apresiasi atas perjalanan sembilan tahun LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan.

Ia menekankan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Perjalanan LKSA diharapkan terus memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan pengasuhan, perlindungan, pendidikan, dan kasih sayang.

BACA JUGA :  PDM Medan Desak Kapolrestabes Tangkap Pelaku Penganiayaan Penjaga Masjid Taqwa Muhammadiyah

Dewi Endah Rupani juga membagikan pengalaman mengenai gerakan “Arisan Wakaf”, berupa iuran sukarela rutin setiap bulan yang dapat menjadi inspirasi dalam menghimpun dukungan untuk pembangunan fasilitas. Gagasan tersebut diharapkan dapat memotivasi pengelola LKSA untuk memperjuangkan kepemilikan gedung sendiri.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala Dinas Sosial Kota Medan, ditekankan bahwa LKSA harus menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Anak-anak yang berada dalam pengasuhan lembaga sosial memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, pembinaan karakter, pengembangan bakat, serta kesempatan membangun kemandirian.

Pengelola LKSA juga diharapkan meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan lingkungan pengasuhan bebas dari kekerasan, perundungan, eksploitasi, maupun bentuk pelanggaran hak anak lainnya.

Penampilan Anak Asuh Warnai Milad

Suasana Milad ke-9 semakin bermakna dengan penampilan anak-anak asuh pada pembukaan acara. Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang terus dikembangkan melalui pembinaan di LKSA.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ceramah oleh Anisa Harefa, salah seorang anak asuh. Kehadirannya sebagai pengisi acara penutup menjadi bagian dari gambaran bahwa anak-anak di LKSA bukan hanya penerima pelayanan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, kepercayaan diri, dan potensi diri.

Melalui peringatan Milad ke-9 ini, pengurus berharap dukungan masyarakat semakin kuat, pelayanan semakin baik, dan cita-cita memiliki gedung sendiri dapat terwujud.

Sembilan tahun perjalanan LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak atas perlindungan dan kehidupan yang layak. Kepedulian terhadap mereka membutuhkan lebih dari sekadar rasa iba, melainkan komitmen dan tindakan nyata yang berkelanjutan. (r/isl)