MEDAN – Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, Andry Mahyar, menduga kuat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kota Medan dan Deli Serdang pada Rabu (27/11/2024) lalu, disebabkan oleh perambahan hutan di Sibolangit.
Andry menjelaskan, hutan Sibolangit memiliki peran penting sebagai penyangga ekosistem dan sumber resapan air. Namun, aktivitas ilegal seperti penebangan pohon dan alih fungsi lahan telah merusak keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut.
“Sejak sembilan tahun lalu, aktivitas perambahan hutan ini berlangsung, dan telah merusak sekitar 20 hektar dari luas 80,1 hektar hutan resapan air milik Tirtanadi,” kata Andry dalam Bincang-bincang Podcast Nusantaraterkini.co, Selasa (3/12/2024).
Ironisnya, Andry menambahkan, kerusakan ekologi ini terjadi karena kepentingan sepihak. Pihaknya pun telah berupaya melakukan negosiasi untuk menyelesaikan masalah ini, namun upaya tersebut malah dibalas dengan intimidasi.
“Kami sudah berusaha untuk berkomunikasi, namun mereka malah mengancam dengan kekerasan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Andry mengungkapkan bahwa dugaan kerusakan ini semakin diperkuat oleh temuan potongan kayu berukuran besar yang ditemukan di lokasi longsor, yang diduga berasal dari aktivitas perambahan hutan ilegal.
Diketahui, longsor yang terjadi di sejumlah titik di jalan Medan-Berastagi, Kecamatan Sibolangit, pada Selasa 26 November kemarin, mengakibatkan korban tewas dan puluhan orang mengalami luka-luka.
Akibat longsor itu juga, sejumlah titik di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang mengalami krisis air bersih.(ntc/bc)
